Harga Kopi Berjangka Menghangat, Terdampak Ekspor Vietnam

Vietnam merupakan produsen kopi jenis robusta terbesar dunia.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 29 Oktober 2019  |  16:26 WIB
Harga Kopi Berjangka Menghangat, Terdampak Ekspor Vietnam
Biji kopi Robusta. - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA – Harga kopi berjangka menghijau setelah Vietnam, salah satu produsen terbesar kopi dunia, mengalami pelemahan ekspor komoditas itu.

Mengutip Bloomberg, Selasa (29/10/2019), laporan Kantor Statistik Umum Vietnam menyatakan ekspor kopi jatuh 0,8 persen pada Oktober 2019, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jauh di bawah ekspektasi untuk pertumbuhan 10 persen dalam survei ekonom Bloomberg.

Penjualan kopi di luar negeri pada bulan ini mencapai 100.000 ton, turun 27 persen dari periode yang sama pada tahun lalu, karena petani menahan penjualan biji kopi dengan harga terendah. 

Untuk diketahui, harga kopi Robusta di ICE berakhir naik 3,3 persen atau 41 poin ke level US$1.298 per ton, Senin (28/10). Sementara itu, harga kopi Arabika ditutup menguat 1,06 persen atau 1,05 poin ke level US$100,5 sen per pon.

Secara keseluruhan, impor Vietnam melonjak 3,5 persen pada Oktober 2019, dari tahun sebelumnya. Ekspor Januari-Oktober 2019 diperkirakan mencapai US$217 miliar, tumbuh 7,4 persen dari periode tahun lalu, setelah negara itu melaporkan peningkatan ekspor 8,2 persen untuk periode Januari-September 2019.

Jack Scoville, penulis di Price Futures Group, mengatakan hasil panen kopi di Vietnam diperkirakan besar pada tahun ini, meski beberapa kondisi beberapa kali terdapat gangguan cuaca.

“Kondisi pertumbuhan secara keseluruhan lebih baik untuk saat ini,” ucapnya.

Scoville menambahkan terkait hal itu, pasar mengantisipasi penawaran yang lebih besar karena produsen dan pedagang perlu menciptakan ruang penyimpanan baru.  

“Mereka diharapkan melakukan ini dengan menjual kopi lama dengan harga lebih murah,” ujarnya;

Sebelumnya, para eksportir kopi di Vietnam berhadapan dengan kenyataan bahwa harga global sedang berada di level terendah dalam satu dekade.

“Kami tak tahu bagaimana merencanakan penjualan, berapa harga kopi yang harus kami tawarkan kepada petani dan berapa harga yang harus kami berikan ke klien,” ungkap Le Tien Hung, Chief Executive Officer di Simexco Daklak, eksportir kopi terbesar di negara itu.

Dia mengeluh karena para petani yang memiliki stok enggan menjual kopinya dengan harga rendah.

Data Organisasi Kopi Internasional (International Coffee Organization/ICO) memperkirakan produksi kopi Vietnam mencapai 30 juta kantong (60 kilogram atau 130 pon) pada periode 2018/2019, angka itu turun 13 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya. Vietnam merupakan produsen kopi jenis robusta terbesar di dunia. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi, vietnam

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top