Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kabinet Indonesia Maju Direspons Positif, IHSG Lanjut Reli Hari ke-9

Selama sepekan, IHSG tumbuh 1,43% dan secara year-to-date naik 1,02%.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 23 Oktober 2019  |  17:30 WIB
 Pekerja melintasi layar monitor bursa saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (16/4/2019)./ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra
Pekerja melintasi layar monitor bursa saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (16/4/2019)./ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA—Pengumuman Kabinet Indonesia Maju menguatkan IHSG pada akhir perdagangan Rabu (23/10/2019). IHSG pun memperpanjang reli yang telah terjadi selama 9 hari berturut-turut.

Menutup perdagangan Rabu (23/10/2019), IHSG parkir di zona hijau dengan kenaikan sebesar 0,52% ke level 6.257. Indeks sempat melemah di sepanjang sesi pertama perdagangan dan menyentuh level terendah pada 6.197.

Selama sepekan, IHSG tumbuh 1,43% dan secara year-to-date naik 1,02%.

Namun demikian, investor asing terus melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp231,29 miliar sepanjang perdagangan hari ini.

Edward Lubis, Presiden Direktur Bahana TCW Investment Management, menjelaskan bahwa secara umum pasar telah merefleksikan dan mengantisipasi pengumuman jejeran kabinet untuk periode 5 tahun ke depan dengan baik.

“Belum ada katalis baru yang mendorong pasar lebih kencang lagi,” kata Edward kepada Bisnis, Rabu (23/10/2019).

Dirinya menambahkan bahwa investor sudah priced-in pada perdagangan hari ini melihat pada Selasa (22/10/2019) telah ada bocoran yang cukup menggembirakan mengenai pos kementerian.

Lebih lanjut, Edward melihat prospek pasar saham masih positif karena pelaku pasar telah terlalu lama di posisi wait and see pada tahun politik ini. Dengan kepastian terpilihnya presiden dan pengumuman kabinet, diharapkan ke depannya kebijakan dari pemerintah dapat terus positif.

Adapun yang menjadi PR, lanjut Edward, adalah cara pemerintah mengangkat pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, hal itu menjadi dasar untuk melihat prospek investasi di pasar modal. Pertumbuhan ekonomi yang lambat dikhawatirkan juga bakal menekan harga-harga saham.

Sementara prospek pemangkasan suku bunga dari Bank Indonesia pada pekan ini dinilai masih akan menguntungkan pasar obligasi ketimbang pasar saham. Bank Indonesia diperkirakan bakal kembali memangkas suku bunga sebesar 25 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berakhir pada Kamis (24/10/2019).

“Efek penurunan bunga secara langsung saat ini baru dirasakan oleh pasar obligasi saja,” imbuh Edward.

Sementara itu, investor asing saat ini juga lebih banyak masuk ke pasar obligasi sementara meninggalkan aset-aset berisiko di pasar saham negara-negara berkembang. Dengan demikian, Edward pesimistis investor asing bisa kembali menjelang akhir tahun ini.

“Menurut saya tidak [kembali]. Ini karena sentimen global, orang menghindari efek di negara berkembang dan pindah ke negara maju,” tutur Edward.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG rekomendasi saham
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top