Harga Nikel Menguat, Vale Indonesia (INCO) Optimistis Cetak Laba Tahun Ini

Motor utama pengerek kinerja keuangan pada kuartal IV/2019 adalah faktor harga dan juga kapasitas produksi yang lebih baik dibandingkan dengan awal tahun.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  13:00 WIB
Harga Nikel Menguat, Vale Indonesia (INCO) Optimistis Cetak Laba Tahun Ini
Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk Nico Kanter (kanan) didampingi Wakil Presiden Direktur B. Irmanto berbicara pada acara Public Expose Marathon yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia, di Makassar, Kamis (14/9). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk. optimistis dapat mencetak laba pada tahun ini setelah pada periode semester I/2019 perseroan membukukan kerugian.

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernadus Irmanto memproyeksikan bahwa kinerja keuangan perseroan pada kuartal IV/2019 akan jauh lebih baik dibandingkan dengan periode sebelumnya.

“Kami akan bisa membukukan keuntungan dibandingkan dengan posisi rugi pada semester I/2019,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (14/10/2019).

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2019, Vale Indonesia membukukan pendapatan US$292,25 juta. Pencapaian itu turun 21,99% dari US$374,61 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Dari situ, beban pokok pendapatan perseroan tercatat senilai US$315,01 juta pada semester I/2019. Posisi tersebut turun 1,89% dari US$321,07 juta pada semester I/2018.

Dengan demikian, emiten berkode saham INCO itu membukukan rugi bersih US$26,17 juta pada semester I/2019. Realisasi itu berbanding terbalik dari laba bersih US$29,38 juta pada semester I/2018.

“Motor utama pengerek kinerja keuangan pada kuartal IV/2019 adalah faktor harga dan juga kapasitas produksi yang lebih baik dibandingkan dengan awal tahun,” ungkapnya.

Di sisi produksi, INCO melaporkan hingga kuartal III/2019 total produksi nikel perseroan tercatat sebanyak 50.531 metrik ton. Catatan tersebut lebih rendah 6,81% dibandingkan dengan peride yang sama tahun lalu sebanyak 54.227 metrik ton.

Sementara itu, pada kuartal III/2019 total produksi nikel INCO tercatat sebanyak 19.820 metrik ton, meningkat 8,93% dibandingkan dengan realisasi pada kuartal III/2018 sebanyak 18.193 metrik ton.

Total produksi pada kuartal III/2019 juga tercatat meningkat 12% dibandingkan realisasi produksi nikel pada kuartal II/2019 yang tercatat yakni 17.631 metrik ton.

“Produksi pada kuartal III/2019 lebih tinggi dibandingkan dengan produksi pada kuartal II/2019 karena telah selesainya aktivitas-aktivitas pemeliharan utama. Kami optimistis bisa mencapai target produksi 2019 sekitar 71.000 ton,” ujar CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia Nico Kanter dalam keterangan resminya.


Proses penandatanganan perjanjian pendahuluan divestasi saham PT Vale Indonesia Tbk. - Istimewa

Dalam perkembanganya yang terbaru, Vale Indonesia, Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) telah menandatangani Perjanjian Pendahuluan sehubungan dengan kewajiban divestasi INCO.

Dalam keterangan resmi pada Senin (14/10/2019), perseroan mengungkapkan bahwa perjanjian pendahuluan yang diteken pada 11 Oktober 2019 merupakan langkah awal dimulainya kerja sama strategis jangka panjang antara Vale Indonesia dan Inalum dalam mengelola sumber daya mineral strategis di Indonesia.

Ditekennya perjanjian itu sejalan dengan surat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia No. 1706/32/DJB/2019 tanggal 8 Oktober 2019 yang menegaskan bahwa Pemerintah Republik Indonesia telah menunjuk Inalum sebagai perwakilannya dalam mengambil alih 20% saham Vale Indonesia untuk memenuhi kewajiban divestasinya.

Perjanjian ditandatangani oleh Presiden Direktur Vale Indonesia Nico Kanter, Wakil Presiden Direktur Febriany Eddy, CEO Vale Canada Limited Mark James Travers dan Deputy General Manager, Non-Ferrous Metals Division Sumitomo Metal Mining Kaoru Hayashi. Sementara itu, pihak Inalum diwakili oleh Presiden Direktur Budi Gunadi Sadikin selaku Presiden Direktur.

"Para Pihak berencana untuk menandatangani perjanjian-perjanjian definitif utama pada akhir 2019 dan menyelesaikan keseluruhan transaksi dalam waktu 6 bulan setelah penandatanganan perjanjian-perjanjian definitif tersebut," ujar Bernadus.

Penandatanganan perjanjian ini, lanjutnya, menempatkan Vale Indonesia pada posisi yang tepat untuk berkontribusi bagi pembangunan Indonesia dan memperkuat komitmen jangka panjang Vale Indonesia terhadap pengolahan sumber daya nikel guna peningkatan nilai tambah, keberlanjutan dan pemberdayaan lokal di Indonesia.

Di pasar modal, saham INCO ditutup stagnan di level Rp3.830 per saham pada akhir perdagangan Senin (14/10/2019). INCO membukukan kenaikan harga saham 17,48% sepanjang tahun berjalan 2019 dengan nilai kapitalisasi sebesar Rp38,06 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
vale indonesia tbk, Nikel

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top