Geopolitik di Timteng Memanas, Harga Minyak Malah Terpeleset

Harga minyak mentah West Texas Intermediate turun 0,23% atau 0,12 poin ke posisi US$52,51 per barel, pukul 14:57 WIB,
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  17:14 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah berjangka tergelincir pada Rabu (9/10/2019), karena Amerika Serikat memasukan perusahaan-perusahaan China dalam daftar hitam (blacklist). Langkah itu dinilai mengurangi harapan kesepakatan dagang antar kedua negara.

Kendati kerusuhan di Irak dan Ekuador memberikan dukungan bagi harga minyak untuk menguat.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate turun 0,23% atau 0,12 poin ke posisi US$52,51 per barel, pukul 14:57 WIB, sedangkan harga minyak mentah Brent turun 0,21% atau 0,12 poin ke posisi US$58,12 per barel.

Harga minyak sedikit memperpanjang penurunan setelah data American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak AS naik 4,1 juta barel pada pekan lalu, jauh melewati 1,4 juta yang diperkirakan oleh para analis.

Investor telah berhati-hati jelang pembicaraan perdagangan AS dan China di Washington, Kamis (10/10/2019) waktu setempat. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa tidak mungkin kesepakatan dagang berlangsung dengan cepat.

Bloomberg melaporkan, Washington bergerak maju dengan diskusi mengenai kemungkinan pembatasan aliran modal ke China, terutama fokus pada investasi oleh dana pensiun pemerintah AS.

US Energy Information Administration (EIA) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2020 sebesar 100.000 barel per hari menjadi 1,40 juta barel per hari.

Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates, mengatakan bahwa pasar minyak akan dipaksa fokus secara lebih ringkas pada penurunan permintaan minyak global yang dilaporkan pada sisa minggu ini.

Harga minyak juga tertekan oleh penurunan tak terduga harga produsen AS pada September yang dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga lagi pada bulan ini.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieava mengingatkan bahwa perlambatan ekonomi global bisa berubah menjadi  lebih masif. Menurutnya, hal itu terjadi, jika tak ada tindakan nyata untuk menyelesaikan konflik perdagangan.

Analis minyak UBS Giovanni Staunovo mengatakan bahwa fokus pasar tetap pada ketegangan perdagangan dan kekhawatiran permintaan minyak. Kedua hal tersebut mengabaikan ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah dan produksi OPEC yang lebih rendah pada September.

"Risiko resesi yang meningkat telah membatasi kenaikan harga minyak," katanya.

Data mingguan resmi dari EIA AS akan dirilis pada Rabu (9/10/2019) pukul 10:30 WIB.

Analis memperkirakan, persediaan minyak mentah di Amerika Serikat akan menunjukkan pertumbuhan untuk minggu keempat sementara stok bensin turun, sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan pada awal pekan ini.

EIA mengatakan bahwa produksi minyak mentah AS diperkirakan akan naik 1,27 juta barel per hari pada 2019 ke rekor 12,26 juta barel per hari, sedikit di atas perkiraan sebelumnya untuk kenaikan 1,25 juta.

Sementara itu, harga minyak memperoleh dukungan dari protes yang terjadi di anggota OPEC Irak dan Ekuador yang mengancam bakal mengganggu produksi minyak mereka. Di Irak, protes dimulai lagi di distrik Sadr City, Baghdad.

Analis RBC Al Stanton mengatakan bahwa kerusuhan di Irak mendapat sorotan pada awal Oktober sebagai akibat dari protes besar di Baghdad.

Dia menambahkan bahwa potensi serangan oleh Turki pada pasukan Kurdi di timur laut Suriah dapat terjadi dekat dengan perbatasan Irak, yang mengarah ke krisis pengungsi yang memberikan tekanan pada ekonomi Kurdistan dan produksi minyaknya.

Turki mengatakan telah menyelesaikan persiapan untuk operasi militer di timur laut Suriah setelah Amerika Serikat mulai menarik mundur pasukan.

Kementerian energi Ekuador mengatakan protes terhadap program rencana penghematan dapat mengurangi produksi minyaknya hingga 59.450 barel per hari.

Arab Saudi menegaskan bahwa mereka siap memenuhi kebutuhan minyak global. Instalasi milik Saudi Aramco diserang pada 14 September, mengenai hasil dan memicu lonjakan harga minyak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, komoditas

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top