KABAR PASAR 8 Oktober: Emiten Mini Serbu Pasar, Pengusaha Batu Bara Siapkan Efisiensi

Berita mengenai antusiasme perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan harga batu bara acuan menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Selasa (8/10/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  08:29 WIB
KABAR PASAR 8 Oktober: Emiten Mini Serbu Pasar, Pengusaha Batu Bara Siapkan Efisiensi
Pejalan kaki berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai antusiasme perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan harga batu bara acuan menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Selasa (8/10/2019).

Berikut beberapa perincian topik utamanya:

Emiten Mini Serbu Pasar. Di tengah kondisi pasar yang masih volatil, sejumlah calon emiten masih tetap antusias melantai di Bursa Efek Indonesia. Bahkan, 31 calon emiten antre menawarkan saham ke publik pada kuartal IV/2019. Nilai dana yang dihimpun (fund raised) terpantau mini karena tidak banyak yang meraup dana hingga lebih dari Rp1 triliun pada sepanjang tahun ini. 

Waspadai Pelemahan Geliat Konsumsi. Menurunnya cadangan devisa dari US$126,4 miliar pada Agustus 2019 menjadi US$124,3 miliar untuk akhir September perlu diwaspadai terhadap kemungkinan adanya indikasi pelemahan aktivitas ekonomi.

Waspadai Outflow Dana Repatriasi. Pemerintah perlu menyiapkan skema untuk mencegah outflow dana repatriasi dalam program pengampunan pajak (tax amnesty) sejalan dengan akan berakhirnya holding period.

‘Cahaya Asia’ Meredup. Risiko resesi Jepang semakin meningkat sejalan dengan turunnya indeks koinsiden ekonomi sebesar 0,4 poin menjadi 99,3 poin pada Agustus lalu. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan estimasi ekonom yang sebesar 99,4 poin.

Investor Cicil Aset Safe Haven. Investor harap-harap cemas menjelang pertemuan dagang antara dua raksasa ekonomi, AS dan China, pada pekan ini di Washington untuk negosiasi menyelesaikan sengketa dagang yang telah terjadi berlarut-larut sejak tahun lalu.

Akses Sanitasi Masih Menyedihkan. Laporan mengejutkan datang dari Suku Dinas (Sudis) Kesehatan Jakarta Barat yang menyebutkan bahwa separuh warga Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, belum memiliki bak pembuangan kotoran (saptick tank) sendiri.

Okupansi Berpotensi Meningkat Akhir Tahun. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah memprediksi okupansi atau tingkat keterisian hotel di Semarang berpotensi meningkat menuju 85% pada kuartal IV/2019.

Keamanan Data Disorot. Teknologi finansial digadang-gadang menjadi salah satu akselerator pertumbuhan ekonomi digital sekaligus inklusi keuangan. Namun, transaksi lintas batas di dalam platform tersebut memantik kekhawatiran atas keamanan data nasabah.

Laju Kredit Belum Lancar. Kalangan bank besar memproyeksikan penyaluran kredit hingga akhir kuartal III/ 2019 lalu masih akan sesuai dengan rencana bisnis awal. Namun, kalangan bank menengah dan kecil malah pesimistis mampu membukukan hasil yang positif.

Pengusaha Batu Bara Siapkan Efisiensi. Kembali terkoreksinya harga batu bara acuan hingga menyentuh level terendah sejak Oktober 2016 menyebabkan pelaku usaha mulai menyiapkan langkah efisiensi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa Harga Batu Bara Acuan (HBA) kembali tertekan menjadi US$64,8 per ton pada Oktober, level terendah sejak Oktober 2016 yang bertengger di angka US$69,07 per ton.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara, aksi emiten

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top