Karet Alam Diserang Sentimen Negatif Global

Selama setahun terakhir, harga karet tercatat turun hingga 6,6 persen.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  17:12 WIB
Karet Alam Diserang Sentimen Negatif Global
Pekerja melakukan proses pengasapan karet di pabrik pengolahan karet Kebun Glantangan milik PTPN XII, di Tempurejo, Jember, Jawa Timur, Minggu (3/3/2019). - ANTARA/Seno

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet alam berjangka di Tokyo melanjutkan pelemahan mendekati level terendah sejak November tahun lalu, dibayangi kekhawatiran pasar terhadap permintaan China, pelemahan harga minyak mentah, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga Kamis (3/10/2019) pukul 15.59 WIB, harga karet alam kontrak pengiriman Maret 2020 di Tokyo Commodity Exchange melemah 0,32 persen atau 0,50 poin ke posisi 155,1 yen per kilogram (kg), usai dibuka turun 0,26 persen atau 0,40 poin ke posisi 155,2 yen per kg.

Penurunan harga karet sudah berlangsung lebih dari sepekan terakhir.  Sejak awal 2019, harga karet sudah merunduk 13,6 persen, sedangkan dalam 12 bulan terakhir, harga produk pertanian ini layu 6,6 persen.

Adapun level terendah harga karet alam dalam 1 tahun terakhir berada di posisi 152,9 yen per kg, yang terjadi pada 21 November 2018.

Gu Jiong, analis di broker Yutaka Shoji, Tokyo, mengatakan pasar karet sedang melemah setelah China menunda perdagangan fisik karet. Hal tersebut berdampak pada pengiriman karet hingga akhir tahun ini.

“Partisipan pasar sedang menanti untuk melihat bagaimana langkah yang akan ditempuh oleh produsen Thailand,” ujarnya seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis (3/10).

Sebagai informasi, Thailand merupakan produsen utama karet dunia. Berdasarkan laporan Thailand Board of Investment, produksi karet Negeri Gajah Putih menyumbang hampir 36 persen dari keseluruhan produksi karet dunia pada 2017.

Gu menambahkan kemerosotan harga bisa memicu minat beli para pedagang dan produsen ban, terutama dengan perdagangan berjangka di bawah fisik.

“Karet akan melihat dukungan kuat pada 150 yen dan dapat bangkit ketika pembeli dari China kembali dari libur pada pekan depan,” ucapnya.

China memiliki hari libur selama sepekan pada awal Oktober untuk memperingati Hari Nasional (National Day). Libur ini membuat sejumlah aktivitas perdagangan terhenti.

Faktor pelemah lainnya adalah harga minyak mentah berjangka global yang bertahan di dekat level terendah dalam hampir dua bulan karena stok minyak mentah AS meningkat.

Dilansir dari Reuters, US Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS naik 3,1 juta barel pada pekan lalu, jauh melebihi ekspektasi analis untuk kenaikan 1,6 juta barel. Adapun stok minyak mentah di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma untuk WTI menunjukkan penyusutan 201.000 barel.

Per Kamis (3/10) pukul 15.15 WIB, harga acuan dua minyak mentah dunia masih memerah. Tercatat, WTI turun 0,09 persen atau 0,05 poin ke posisi US$52,59 per barel, sedangkan Brent melemah 0,21 persen atau 0,12 poin ke posisi US$57,57 per barel.

Pergerakan harga minyak mentah seringkali memengaruhi harga karet alam, karena minyak mentah merupakan bahan baku karet sintetis, produk subitusi karet alam.

Ketika ada kenaikan harga minyak, maka biaya pembuatan karet sintetis menjadi lebih mahal. Pabrik-pabrik pun akan beralih ke karet alam yang lebih murah.

Dikutip dari laman resmi Association of Natural Rubber Producing Countries, berdasarkan perkiraan awal, produksi karet alam dunia menciut 6,5 persen menjadi 4,39 juta ton selama 5 bulan pertama 2019, secara tahunan. Sementara itu, konsumsi tercatat naik 0,9 persen menjadi 5,78 juta ton, dari 5,37 juta ton selama periode yang sama pada tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top