Ekspektasi Perdagangan Kesepakatan Kembali Meningkat, Bursa Asia Menguat

Bursa saham Asia menguat pada Selasa setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengkonfirmasi pembicaraan perdagangan AS-China akan dilanjutkan bulan depan
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 24 September 2019  |  15:59 WIB
Ekspektasi Perdagangan Kesepakatan Kembali Meningkat, Bursa Asia Menguat
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada Selasa setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengkonfirmasi pembicaraan perdagangan AS-China akan dilanjutkan bulan depan

Namun, kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan global mengurangi sebagian besar minat investor terhadap aset aset berisiko.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang terpantau menguat 0,1 persen, dengan indeks Shanghai Composite menguat 0,28 persen setelah wakil kepala perencana negara China mengatakan Beijing akan meningkatkan upaya untuk menstabilkan pertumbuhan.

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang terpantau menguat masing-masing 0,42 persen dan 0,09 persen libur pasar pada hari Senin, sedangkan indeks Hang Seng menguat 0,22 persen.

Bursa saham berjangka AS naik 0,38 persen, dibantu oleh komentar dari Mnuchin bahwa pembicaraan perdagangan AS-China akan dilanjutkan minggu depan. Dia kemudian mengklarifikasi bahwa negosiasi akan berlangsung dalam dua pekan ke depan.

"Komentar itu memberikan sedikit dorongan pada sentimen, tetapi pasar juga masih tidak optimis," kata Masahiro Ichikawa, analis senior di Sumitomo Mitsui DS Asset Management, seperti dikutip Reuters.

"Tampaknya ada banyak hal yang terjadi di balik layar," katanya, merujuk pada pertukaran yang tidak biasa, setelah Presiden AS Donald Trump mempertanyakan keputusan oleh negosiator perdagangan untuk meminta pejabat China menunda perjalanan direncanakan ke daerah pertanian AS.

Pembatalan itu dilihat oleh pasar sebagai pertanda sentimen negatif dalam pembicaraan AS-China dan membantu mengirim harga saham lebih rendah pada hari Jumat.

Kekhawatiran atas perlambatan ekonomi global tetap menjadi yang terdepan dan menjadi pusat pasar keuangan, menekan perkiraan pendapatan, karena pembacaan aktivitas bisnis yang buruk dari zona euro memperdalam kekhawatiran resesi dan menyarankan lebih banyak stimulus yang diperlukan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top