Semester I/2019, Laba Bersih Bukit Asam (PTBA) Turun 24,42 persen

Pendapatan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) hanya naik tipis karena harga jual rata-rata turun 6,8% dari Rp835.965/ton pada semester I/2018 menjadi menjadi Rp778.821 per ton pada semester I/2019.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 16 September 2019  |  15:06 WIB
Semester I/2019, Laba Bersih Bukit Asam (PTBA) Turun 24,42 persen
Dirut PT Bukit Asam Tbk Arviyan Arifin (tengah) bersama Direktur Mega Satria (ketiga kanan), Direktur Adib Ubaidillah (ketiga kiri), Direktur Joko Pramono (kedua kanan), Direktur Suryo Eko Hadianto (kedua kiri), Direktur Fuad Iskandar Zulkarnain Fachroeddin (kanan), dan Sekretaris Suherman bertumpu tangan usai mengikuti RUPST, di Jakarta, Kamis (25/4/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) akhirnya merilis laporan keuangan semester I/2019 yang diaudit secara terbatas. Hasilnya, PTBA membukukan pendapatan Rp10,61 triliun dan laba bersih Rp2 triliun.

Sepanjang Januari-Juni 2019, pendapatan PTBA tumbuh 1,14 persen secara tahunan dari Rp10,49 triliun pada semester I/2018. Di sisi lain, laba bersih PTBA tergerus 24,42 persen dari Rp2,65 triliun menjadi Rp2 triliun.

Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman mengatakan pertumbuhan pendapatan sejalan dengan peningkatan volume penjualan batu bara sebesar 9,7% secara tahunan menjadi 13,4 juta ton.

Namun, pendapatan hanya naik tipis karena harga jual rata-rata turun 6,8% dari Rp835.965/ton pada semester I/2018 menjadi menjadi Rp778.821 per ton pada semester I/2019.

Menurut Suherman, pelemahan harga batu bara Newcastle sebesar 38% dan harga batu bara thermal Indonesia atau Indonesian Coal Index (ICI) GAR 5000 sebesar 26% adalah faktor utama yang menggerus harga rata-rata pada semester I/2019.

“[PTBA] mencatatkan pendapatan sebesar Rp10,6 triliun, yang terdiri atas penjualan batu bara domestik sebesar 53%, penjualan batu bara ekspor sebesar 45%, dan aktivitas lainnya seperti penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit, dan jasa sewa,” katanya dalam siaran resmi, Senin (16/9/2019).

Di tengah penurunan harga batu bara acuan (HBA), perseroan telah berupaya untuk mengoptimalkan peluang pasar ekspor ke beberapa negara, seperti India, Korea Selatan, Hong Kong, Filipina, Taiwan, dan sejumlah negara Asia lainnya, ditengah penurunan harga batu bara acuan (HBA).

“Kinerja itu juga didukung oleh strategi optimasi penjualan ekspor batu bara medium to high calorie ke premium market,” katanya.

Saat harga emas hitam melemah, PTBA membukukan kenaikan beban pokok penjualan sebesar 13% secara tahunan menjadi Rp6,96 triliun. Menurut Suherman, peningkatan disebabkan oleh biaya angkutan kereta api seiring dengan peningkatan volume angkutan batu bara.

Selain itu, kenaikan biaya jasa penambangan juga terjadi seiring dengan peningkatan produksi dan peningkatan stripping rasio pada semester I/ 2019 sebesar 4,6 dari 4,3 pada semester I/2018.

Pada perdagangan hari ini hingga pukul 14.59 WIB, saham PTBA menguat 1,17% ke level Rp2.590. Selama tahun berjalan 2019, PTBA tergerus 39,77%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, bukit asam

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top