Output Bijih Nikel Filipina Naik 3 Persen Meski Banyak Tambang Tutup

Berdasarkan data Biro Pertambangan dan Geosains, sepanjang semester I/2019 Filipina menghasilkan sebanyak 11,31 juta metik ton bijih nikel, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 11,01 juta ton.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 11 September 2019  |  15:59 WIB
Output Bijih Nikel Filipina Naik 3 Persen Meski Banyak Tambang Tutup
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Output bijih nikel Filipina, salah satu eksportir bijih nikel terbesar di dunia, naik 3 persen pada paruh pertama tahun ini meskipun setengah dari jumlah tambang negara ditutup karena alasan pemeliharaan atau lingkungan.

Berdasarkan data Biro Pertambangan dan Geosains, sepanjang semester I/2019 Filipina menghasilkan sebanyak 11,31 juta metik ton bijih nikel, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 11,01 juta ton.

Kenaikan produksi tersebut terjadi meskipun sebanyak 16 dari 31 tambang nikel di Filipina tutup pada paruh pertama tahun ini karena pemeliharaan atau penangguhan operasional tambang akibat kebijakan lingkungan dan lainnya.

Sebagai informasi, Department of Environment and Natural Resources Filipina (DENR) pada tahun lalu mengeluarkan kebijakan operasional baru, termasuk bagi beberapa produsen nikel, untuk mengikuti audit dan memberhentikan operasionalnya sementara guna menilai kepatuhan mereka terhadap peraturan lingkungan.

Namun, hingga kini masih terdapat 5 tambang yang ditangguhkan belum memenuhi persyaratan untuk mengangkat suspensi tersebut sehingga belum dapat memulai operasionalnya.

Mengutip riset Fitch Solutions Macro Research, pihaknya memperkirakan produksi bijih nikel di Filipina tetap rendah dalam beberapa tahun mendatang karena kebijakan lingkungan yang ketat dan ketidakpastian kebijakan yang tinggi sehingga akan menghambat pengembangan proyek.

Sebagai informasi, pada 2018, output bijih nikel Filipina turun 4 persen menjadi 25,9 juta metrik ton. Adapun, Filipina merupakan produsen bijih nikel terbesar secara global, selain Indonesia, yang menjual sebagian besar bijih nikelnya kepada China, konsumen logam terbesar di dunia.

"Kami mengharapkan output di produsen global nomor satu, Filipina, akan mulai meningkat pada 2019 karena beberapa tambang yang saat ini ditangguhkan mulai kembali beroperasi," tulias Fitch Solution dalam risetnya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (11/9/2019).

Penambang nikel Filipina kemungkinan besar akan meningkatkan produksi bijih tahun depan, berusaha mengisi kesenjangan pasokan yang akan dibuat ketika Indonesia resmi menghentikan ekspor bijihnya pada awal tahun depan.

Oleh karena itu, Fitch Solutions mengharapkan adanya pertumbuhan tahunan rata-rata 2,5 persen pada output Filipina selama 2019 hingga 2028.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, Nikel

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top