Bahana Sekuritas: Penggalangan Dana di Pasar Modal Belum Maksimal

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pada awal September, terdapat 33 perusahaan baru yang tercatat lewat penawaran umum saham perdana (initial public offering).
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 11 September 2019  |  11:36 WIB
Bahana Sekuritas: Penggalangan Dana di Pasar Modal Belum Maksimal
Direktur Utama PT Bahana Sekuritas Feb Sumandar (kanan) memberikan keterangan saat acara Bahana Sekuritas media forum 2019 dengan tema Good Buying Oppurtunity di Jakarta, Kamis (23/5). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Penghimpunan dana lewat pasar modal dinilai belum maksimal di tengah tren pemangkasan suku bunga pada tahun ini.

Adapun, kondisi volatilitas yang tinggi di pasar keuangan global, termasuk Indonesia, membuat investor lebih berhati-hati untuk mencari pendanaan lewat penerbitan saham maupun surat utang.

Direktur Utama Bahana Sekuritas Feb Sumandar menjelaskan, saat suku bunga turun biasanya penggalangan dana lewat pasar saham menjadi semakin menarik.

“Namun, hal itu belum maksimal terjadi di pasar keuangan domestik karena investor masih khawatir terhadap volatilitas yang ada, yang lebih banyak diakibatkan oleh faktor eksternal,’’ kata Feb melalui keterangan resmi yang dikutip Rabu (11/9/2019).

Dirinya melanjutkan, beberapa emiten yang tadinya berencana menerbitkan saham ataupun obligasi kini masih menahan diri karena khawatir penerbitannya tidak mampu diserap pasar.

Adapun, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pada awal September, terdapat 33 perusahaan baru yang tercatat lewat penawaran umum saham perdana (initial public offering). Jumlah ini di bawah perolehan pada akhir September 2018 yang sebanyak 37 IPO.

Terbaru adalah PT Kencana Energi Lestari Tbk. (KEEN) yang melepas 733 juta saham seharga Rp396 per lembar saham dengan total perolehan dana mencapai Rp290 miliar.

Sementara dari penerbitan obligasi, pencatatan teranyar adalah obligasi berkelanjutan Indonesia Eximbank IV senilai Rp1,01 triliun dan sukuk Mudharabah berkelanjutan Indonesia Eximbank I 2019 senilai Rp150 miliar yang diterbitkan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.

Dengan demikian, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat hingga awal bulan ini mencapai 73 emisi dari 41 emiten dengan total nilai emisi mencapai Rp86,1 triliun.

Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, per akhir September 2018 tercatat total emisi obligasi dan sukuk mencapai 63 emisi dari 41 perusahaan dengan total dana Rp77,71 triliun.

Padahal, pada tahun lalu bank sentral tengah melakukan pengetatan moneter secara bertahap demi menjaga defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman.

Namun, pada tahun ini BI mengambil langkah pelonggaran moneter dengan menurunkan suku bunga sebanyak 50 bps dalam 2 bulan terakhir. Suku bunga acuan 7-Day Reserve Repo Rate yang saat ini berada di level 5,5% diharapkan dapat mendorong pertumbuhan PDB.

Feb pun merekomendasikan instrumen alternatif di tengah kondisi saat ini untuk tetap meraih nilai pendanaan yang diinginkan, seperti penerbitan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) ataupun kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK EBA).

‘’Dalam kondisi ini, sangat diperlukan adanya instrumen pembiayaan alternatif yang membuat investor yakin untuk berinvestasi, sehingga pada akhirnya diserap oleh pasar meski kondisi pasar keuangan sedang diliputi volatitlitas tapi tidak akan terkena dampaknya,’’ ujar Feb.

Adapun, pekan lalu, Bank Bukopin telah mencatatkan KIK—EBA Bahana Bukopin Kumpulan Tagihan Kredit Pensiunan yang Dialihkan Kelas A1, dengan nilai emisi mencapai Rp480,40 miliar dan tingkat bunga sebesar 9,25%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bei, pasar modal

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top