Stok Sawit Malaysia Turun, Harga CPO Menanjak

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO kontrak pengiriman November 2019 di Bursa Derivatif Malaysia menguat 1,04% atau 23,00 poin ke posisi 2.224 ringgit per ton.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 10 September 2019  |  17:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Persediaan minyak kelapa sawit Malaysia jatuh ke level terendah dalam 13 bulan terakhir sejalan dengan kenaikan ekspor sejak Maret tahun ini.

Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) memperlihatkan stok crude palm oil (CPO) di Negeri Jiran tersebut menyusut 5,3% menjadi 2,25 juta ton pada Agustus dari 2,37 juta ton pada Juli 2019. Jumlah tersebut merupakan penurunan bulanan keenam berturut-turut dan setara dengan estimasi median dalam survei Bloomberg sebesar 2,22 juta ton.

Ekspor meningkat lebih dari yang diharapkan dan produksi naik untuk bulan kedua. Dalam hal ini, ekspor sawit Malaysia tumbuh 16% menjadi 1,73 juta ton pada bulan lalu, dari 1,48 juta pada Juli. Perolehan itu sekaligus memukul sejumlah perkiraan sebelumnya di angka 1,70 juta ton.

Penurunan stok sawit di Malaysia memicu harga sawit menguat, di tengah harapan produsen utama dunia, yaitu Indonesia meningkatkan konsumsi sawitnya untuk biodiesel. Selain itu, konsumsi minyak sawit China juga diperkirakan meningkat.

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO kontrak pengiriman November 2019 di Bursa Derivatif Malaysia menguat 1,04% atau 23,00 poin ke posisi 2.224 ringgit per ton, pada pukul 14:51 WIB, melanjutkan penguatan di sesi pembuka sebesar 0,77% atau 17,00 poin ke posisi 2.218 ringgit per ton.

Sementara itu, data AmSpec Agri menunjukkan, pengiriman sawit Malaysia pada 1-10 September mencapai 393.129 ton. Jumlah tersebut turun 12% dari bulan sebelumnya.

Analis dari Rabobank Oscar Tjakra memperkirakan, harga sawit bakal berada pada level rata-rata 2.200 ringgit per ton pada kuartal keempat, kemudian naik menjadi 2.300 ringgit per ton pada kuartal pertama tahun depan.

Hal itu sejalan dengan asumsi Indonesia meningkatkan mandat biodieselnya menjadi B30 pada Januari tahun depan.

Mandat B30 Indonesia diperkirakan akan membantu mengurangi stok minyak sawit di pasar. Sebab produsen sawit terkemuka tersebut memiliki dana yang cukup untuk memberi insentif pada pencampuran B30 pada 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak sawit, harga cpo

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top