Sektor Tambang Dongkrak IHSG, Rupiah Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses membukukan rebound dan mengakhiri pergerakannya di zona hijau pada perdagangan hari ini, Rabu (4/9/2019), bersama dengan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 04 September 2019  |  16:44 WIB
Sektor Tambang Dongkrak IHSG, Rupiah Menguat
Rupiah dan IHSG kompak menguat dua hari beruntun Rabu dan Kamis 9 dan 10 Januari 2019

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses membukukan rebound dan mengakhiri pergerakannya di zona hijau pada perdagangan hari ini, Rabu (4/9/2019), bersama dengan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup menguat 0,13 persen atau 8,07 poin di level 6.269,66 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (3/9), IHSG berakhir melemah 0,46 persen atau 28,96 poin di level 6.261,59, koreksi hari kedua berturut-turut.

Indeks mulai bangkit dari pelemahannya dengan dibuka naik 0,08 persen atau 5,17 poin di level 6.266,76. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.239 – 6.273,6.

Lima dari sembilan sektor berakhir di zona hijau, dipimpin tambang (+1,16 persen) dan perdagangan (+0,73 persen). Empat sektor lainnya ditutup di zona merah, dipimpin infrastruktur yang turun 0,38 persen sekaligus membatasi besarnya kenaikan IHSG.

Dari 651 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 219 saham menguat, 195 saham melemah, dan 237 saham stagnan.

Saham PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) dan PT MNC Vision Networks Tbk. (IPTV) yang masing-masing naik 18,64 persen dan 23,84 persen menjadi pendorong utama kenaikan IHSG.

Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup menguat 68 poin atau 0,48 persen di level Rp14.160 per dolar AS, setelah berakhir terdepresiasi 34 poin atau 0,24 persen di posisi 14.228 pada perdagangan Selasa (3/9).

Pada saat yang sama, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terpantau melemah 0,253 poin atau 0,26 persen ke posisi 98,747.

Dilansir dari Bloomberg, penguatan nilai tukar rupiah didukung rencana reformasi perpajakan oleh pemerintah demi menarik lebih banyak investasi luar negeri.

Pemerintah menyiapkan rancangan undang-undang (RUU) ketentuan dan fasilitas perpajakan yang akan mengatur pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPn) dan ketentuan umum perpajakan (KUP).

Pada Selasa (3/9), Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan RUU itu akan mengatur penurunan tarif PPh badan dari 25 persen pada saat ini menjadi 20 persen berlaku mulai tahun 2021.

Di samping itu, RUU tersebut juga akan menurunkan tarif PPh sebesar 3 persen bagi perusahaan yang akan menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Apabila tarif normalnya 30 persen, maka pemerintah akan menurunkan menjadi 17 persen.

“Rupiah kemungkinan akan diperdagangkan terhadap berita positif tentang rencana untuk memotong pajak penghasilan perusahaan dan reformasi undang-undang untuk pajak pertambahan nilai,” ujar Selena Ling, kepala penelitian perbendaharaan dan strategi di OCBC Bank di Singapura.

“Hal tersebut akan menarik bisnis dan investasi dalam jangka menengah,” tambahnya, dikutip dari Bloomberg.

Mata uang lainnya di kawasan Asia ikut terapresiasi di tengah pelemahan dolar AS akibat tertekan rilis laporan aktivitas manufaktur AS bulan Agustus yang menunjukkan kontraksi.

Institute for Supply Management (ISM) melaporkan bahwa indeks aktivitas pabrik nasional turun menjadi 49,1, jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka 51,1 yang diperkirakan oleh analis dalam survei Reuters.

Bersama IHSG, mayoritas indeks saham di Asia juga berakhir di wilayah positif. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,12 persen dan indeks Kospi Korea Selatan naik tajam 1,16 persen.

Di China, indeks saham Shanghai Composite dan CSI 300 ditutup naik 0,93 persen dan 0,84 persen masing-masing. Indeks Hang Seng Hong Kong bahkan melonjak nyaris 4 persen.

Secara keseluruhan, bursa Asia kompak menguat bersama bursa Eropa dan indeks futures Amerika Serikat (AS), didongkrak harapan kembalinya stabilitas politik di Hong Kong.

Bursa saham di Hong Kong mencatat lonjakan tertinggi sejak 2018 sekaligus membantu mendorong pasar di kawasan Asia ke posisi lebih tinggi, menyusul laporan bahwa Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam akan mencabut rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi.

Lam disebut akan mengumumkan pembatalan resmi RUU itu pada hari ini waktu setempat. Seorang sumber dari pemerintah Hong Kong mengkonfirmasi rencana tersebut kepada Reuters, namun kantor pemerintah setempat belum memberikan komentar terkait rencana ini.

RUU ekstradisi, yang memungkinkan ekstradisi pelaku kejahatan dari wilayah itu ke China daratan, telah memicu pertentangan yang berujung pada aksi unjuk rasa besar-besaran dan kerusuhan dalam sekitar tiga bulan terakhir.

Pencabutan RUU tersebut secara resmi menjadi salah satu tuntutan utama para pengunjuk rasa pro-demokrasi yang telah berdemonstrasi menentang kekuasaan pemerintah selama ini dan membebani pasar secara global.

Kembalinya stabilitas di Hong Kong dapat membantu mengangkat optimisme investor setelah terbebani laporan yang mengindikasikan kontraksi dalam manufaktur AS bulan Agustus yang dirilis pada Selasa (3/9) dan serangkaian data manufaktur lesu dari negara-negara lain.

Data tersebut menyebabkan pedagang meningkatkan spekulasi langkah pemangkasan suku bunga yang lebih dalam oleh bank sentral AS Federal Reserve tahun ini.

“Seperti yang ditunjukkan oleh penurunan dalam imbal hasil AS, pasar akan mendesak The Fed untuk melakukan lebih banyak meskipun penurunan suku bunga pada September telah diperhitungkan,” ujar Masahiro Ichikawa, pakar strategi senior di Sumitomo Mitsui DS Asset Management, dikutip dari Reuters.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

FREN

+18,64

IPTV

+23,84

BRPT

+2,97

MEGA

+5,08

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

TLKM

-1,38

BBCA

-0,58

CPIN

-2,70

POLL

-4,11

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top