Badai Dorian & Perang Dagang Ancam Permintaan, Harga Minyak Turun

Kekhawatiran mengenai dampak Badai Dorian dan perang dagang Amerika Serikat (AS)-China yang berkepanjangan menekan harga minyak mentah pada perdagangan Senin (2/9/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 September 2019  |  07:10 WIB
Badai Dorian & Perang Dagang Ancam Permintaan, Harga Minyak Turun
Kilang Minyak - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Kekhawatiran mengenai dampak Badai Dorian dan perang dagang Amerika Serikat (AS)-China yang berkepanjangan menekan harga minyak mentah pada perdagangan Senin (2/9/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober 2019 turun 33 sen ke level US$54,77 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 12.59 siang waktu setempat.

Minyak WTI kontrak Oktober bahkan sempat menyentuh level terendah intraday di US$54,34. Transaksi perdagangan WTI untuk Senin kemudian akan dicatatkan pada perdagangan Selasa (3/9/2019) karena libur Hari Buruh AS. Sepanjang Agustus, kontrak minyak ini membukukan penurunan sebesar US$3,48.

Adapun minyak acuan global Brent kontrak November 2019 turun tajam US$1,77 ke level US$58,66 per barel di ICE Futures Europe Exchange dan diperdagangkan premium sebesar US$4,07 per barel terhadap WTI untuk bukan yang sama.

Brent kontrak Oktober berakhir pada Jumat (30/8) dan telah mencatat pelemahan 7,3 persen untuk Agustus.

Meski Dorian, yang mencapai kekuatan kategori 5 selama akhir pekan, mungkin tidak akan memengaruhi produksi dan pemurnian minyak mentah AS, badai ini akan mengurangi permintaan untuk bensin dan diesel.

“Produk-produk menyebabkan pasar menurun dan minyak mentah mengikutinya,” ujar Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates LLC. “Meski liburan Hari Buruh AS mengakhiri perdagangan lebih awal, ada volume yang layak.”

Jalur perkiraan badai tetap tidak menentu meskipun diperkirakan akan bergerak sangat berbahaya ke garis pantai Florida pada Senin malam atau Selasa.

Sementara itu, tarif baru oleh pemerintah AS terhadap barang-barang China, yang mulai berlaku pada Minggu (1/9/2019), semakin memicu kekhawatiran akan permintaan.

Washington mulai mengenakan tarif 15 persen pada impor senilai US$110 miliar asal China dan Beijing membalasnya dengan tarif baru pada minyak mentah AS.

Bukti terkini mengenai dampak konflik perdagangan AS-China terhadap ekonomi global terlihat pada prospek untuk manufaktur China yang memburuk pada bulan Agustus.

Data PMI China yang dirilis Caixin Media dan IHS Markit pada Senin (2/9) mampu mencatat peningkatan menjadi 50,4 dari 49,9 pada Juli. Hal ini menunjukkan kembalinya ekspansi dan level tertinggi sejak Maret.

Kendati demikian, PMI manufaktur resmi Negeri Bambu tetap berkontraksi dengan turun menjadi 49,5, menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) pada Sabtu (31/8/2019), sejalan dengan sub-indeks yang menunjukkan kontraksi pesanan domestik dan pesanan baru di luar negeri.

Di sisi lain, pejabat pemerintah China dan AS tetap berupaya untuk menyepakati jadwal pertemuan yang direncanakan bulan ini, menurut sumber terkait.

"Ketidakpastian ekonomi akan terus mendominasi agenda pasar minyak setelah langkah-langkah baru perdagangan AS dan China berlaku,” ujar Harry Tchilinguirian, kepala strategi pasar komoditas di BNP Paribas SA.

"Pasar semakin mundur ke perselisihan yang berlarut-larut dan akan melihat ke arah pelonggaran bank sentral untuk menopang daya tarik aset berisiko guna membantu mengatasi keraguan yang ada dalam minyak,” tambahnya, seperti dilansir dari Bloomberg.

Dilanjutkan oleh Lipow, data ekonomi yang buruk dari Jerman dan Inggris juga membebani pasar. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memberi peringatan bahwa Inggris menghadapi ancaman pemilu dalam beberapa pekan, karena krisis politik mengenai Brexit (perpisahan Inggris dari Uni Eropa) semakin dalam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top