Kejutan Rini Saat 'Injury Time'

Akankah perombakan jajaran pengurus sejumlah BUMN yang diracik oleh Rini Soemarno berbuah manis?
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 02 September 2019  |  08:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Joko Widodo dan Ma’ruf Amin akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 pada Oktober 2019. Pada masa transisi pemerintahan alias injury time ini, Istana sudah mewanti-wanti agar tidak ada kebijakan strategis yang diambil di jajaran korporasi pelat merah, termasuk pergantian direksi.

Wejangan Jokowi yang disampaikan kepada publik oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko pada 12 Agustus 2019 boleh dibilang terlambat. Pasalnya, lima badan usaha milik negara (BUMN) terlanjur mengumumkan rencana menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa.

Lima emiten itu ialah PT Perusahaan Gas Negara Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. yang mengagendakakn RUPSLB pada akhir Agustus dan awal September 2019.

Langkah itu disusul oleh dua BUMN farmasi PT Indofarma (Persero) Tbk. dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk. yang mengumumkan RUPSLB pada medio September 2019.

jadwal rupslb BUMN

Agenda evaluasi kinerja semester I/2019 dan perubahan susunan pengurus perseroan diusung dalam RUPSLB yang dirancang oleh korporasi pelat merah itu. Untuk agenda perubahan susunan pengurus perseroan, disebutkan mata acara itu dilandasi adanya Surat Menteri BUMN Rini Soemarno selaku pemegang saham Seri A Dwiwarna.

Utak-atik kursi jabatan BUMN selalu menyedot perhatian publik dan investor. Terlebih, BUMN itu merupakan perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Teka-teki perubahan susunan pengurus sejumlah BUMN itu mulai terkuak pada pekan lalu sejalan dengan bergulirnya rentetan RUPSLB.

Bank Mandiri menjadi BUMN pertama yang menggelar RUPSLB pada Rabu (28/8/2019). RUPSLB Bank Mandiri berakhir tanpa ada perubahan signifikan dalam jajaran Direksi dan Komisaris bank papan atas di Indonesia itu.

Seperti diberitakan Bisnis, hasil RUPSLB emiten berkode saham BMRI itu memutuskan penunjukkan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Keuangan Rionald Silaban sebagai komisaris perseroan. Rionald menggantikan Askolani yang saat ini menjabat Dirjen Anggaran Kemenkeu.

Kejutan justru muncul dalam RUPSLB Bank Tabungan Negara yang dilaksanakan pada Kamis (29/8/2019). Setelah menjabat sekitar 7 tahun, Maryono dicopot dari kursi Direktur Utama BTN dan digantikan oleh Dirut BRI Suprajarto.

suprajarto

Mantan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Suprajarto saat memberikan keterangan pers terkait dengan penunjukan dirinya sebagai Dirut PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. pada Kamis (29/9/2019)./Bisnis-Lalu Rahadian

Tak hanya publik yang terkejut dengan keputusan itu, pun Suprajarto. Dia mengaku tidak pernah diajak bicara mengenai penetapan dirinya menjadi Direktur Utama BTN.

Pria berkumis tipis itu pun memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan barunya. Keputusan itu berimplikasi terhadap pucuk pimpinan dua bank sekaligus, yaitu BTN dan BRI.

Teranyar, pemerintah merotasi susunan direksi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. pada Jumat (30/8/2019). Pemegang saham mayoritas masih mempertahankan Achmad Baiquni pada posisi Direktur Utama BNI dan Herry Sidharta sebagai wakilnya.

Kendati demikian, RUPSLB mengangkat Tambok P. Setyawati yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Konsumer untuk menduduki kursi Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan Jaringan BNI.

Selanjutnya, Anggoro Eko Cahyo yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan kini menggantikan posisi Tambok sebagai Direktur Bisnis Konsumer. Sebagai gantinya, Ario Bimo ditunjuk untuk mengisi posisi Direktur Keuangan.

Pertukaran posisi terjadi pada Bob Tyasika Ananta dan Rico Budidarmo. Bob kini menjabat sebagai Direktur Tresuri dan Internasional, sedangkan Rico didapuk sebagai Direktur Manajemen Risiko BNI.

Di jajaran komisaris, RUPSLB mengangkat Askolani untuk menggantikan Marwanto Harjowiryono sebagai komisaris BNI.

data BUMN

Rotasi direksi tidak hanya terjadi di jajaran komisaris dan direksi perbankan pelat merah. Pada Jumat (30/8/2019), pemerintah lewat Kementerian BUMN juga merombak pengurus perseroan PT Perusahaan Gas Negara Tbk.

Berdasarkan keputusan RUPSLB, emiten berkode saham PGAS itu masih mempertahankan Gigih Prakoso sebagai Direktur Utama. Namun, dilakukan pengangkatan dua direksi baru.

Pertama, RUPSLB mengangkat Redy Ferryanto sebagai Direktur Infrastruktur dan Teknologi. Dia menggantikan Dilo Seno Widagdo yang menjabat sejak 2016.

Kedua, RUPSLB mengangkat Arie Nobelta Kaban sebagai Direktur Keuangan. Arie menggantikan Said Reza Pahlevi yang menjabat sejak 2018.

Selain itu, RUPSLB mengubah jabatan Dilo Seno Widagdo dari Direktur Infrastruktur dan Teknologi menjadi Direktur Komersial menggantikan Danny Praditya.

Dari sisi jaran komisaris, para pemegang saham memutuskan mengangkat Christian H. Siboro sebagai Komisaris Independen menggantikan Mohamad Ikhsan.

Rotasi Biasa

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Jasa Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan rotasi di jajaran direksi BUMN merupakan hal yang biasa. Kebijakan itu menurutnya disesuaikan dengan keahlian pihak bersangkutan.

Terkait dengan pengunduran diri Suprajarto, Gatot mengklaim pimpinan Kementerian BUMN senantiasa menyampaikan keputusan penugasan secara langsung.

“Komunikasi terus dilakukan untuk bersama sebagai keluarga besar BUMN untuk memberikan yang terbaik bagi kinerja dan pertumbuhan BUMN ke depan," ujarnya, Jumat (30/8/2019).

Dia mengatakan Kementerian BUMN senantiasa berkomunikasi baik dengan Suprajarto. Terutama juga menyikapi dengan tahapan-tahapan selanjutnya sesuai ketentuan yang ada.

Pada September 2019, tiga BUMN akan mengelar RUPSLB. Mereka ialah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Indofarma (Persero) Tbk., dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk.

RUPSLB Bank Rakyat Indonesia akan mencari pengganti Suprajarto yang sudah dipastikan tak lagi duduk sebagai Direktur Utama. Sementara itu, dua BUMN farmasi tak hanya membahas perubahan susunan pengurus, tetapi juga membahas rencana pembentukan holding BUMN sektor farmasi.

Selain holding BUMN farmasi, KAEF akan meminta restu untuk menambah modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue. Dalam aksi korporasi itu, pemerintah tidak akan mengambil haknya sehingga porsi sahamnya di KAEF akan terdilusi dari 90% menjadi sekitar 70%.

ihsg

Kinerja Saham

Kegaduhan rotasi direksi perbankan pelat merah itu cukup berimbas terhadap laju saham Bank Tabungan Negara dan Bank Rakyat Indonesia di pasar modal pada perdagangan, Jumat (30/8/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham Bank Rakyat Indonesia mengawali perdagangan dengan koreksi 10 poin ke level Rp4.190. Bahkan, pergerakan emiten berkode saham BBRI itu sempat menyentuh level Rp4.120.

Akan tetapi, laju BBRI kembali memantul ke zona hijau. Pada akhir perdagangan, saham perseroan ditutup menguat 70 poin atau 1,67% ke level Rp4.270.

Dalam sepekan terakhir, pergerakan BBRI masih menghasilkan return positif. Tercatat, laju saham menguat 4,66% untuk periode tersebut.

Nasib berbeda di alami saham Bank Tabungan Negara. Emiten berkode saham BBTN itu harus puas mendarat di zona merah dengan koreksi 30 poin atau 1,48% ke level Rp2.000 pada perdagangan, Jumat (30/8/2019).

Padahal, BBTN mengawali perdagangan dengan penguatan 10 poin ke level Rp2.040. Posisi itu bertahan hingga pukul 15.00 dan akhirnya terjun ke zona merah pada satu jam terakhir sesi perdagangan.

Adapun, pergerakan BBTN tercatat mengalami koreksi 8,68% untuk periode sepekan terakhir. Sementara itu, saham BMRI dan PGAS tercatat masih mencetak return positif masing-masing 1,05% dan 4,92%.

Kepercayaan Investor

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menilai kisruh penetapan Direktur Utama Bank Tabungan Negara semakin menguatkan pandangan bahwa penetapan dalam struktur kepengurusan di BUMN tidak hanya memiliki pertimbangan tunggal yakni peningkatan kinerja perseroan. Akan tetapi, ada pertimbangan lain yang tidak berkaitan dengan kepentingan bisnis.

“Rotasi di jajaran direksi BUMN memang sesuatu yang biasa. Namun, apa yang terjadi pada rotasi Dirut BRI ke BTN luar biasa, pertama keputusan kementrian BUMN untuk melakukan perubahan susunan kepengurusan BUMN menjelang pergantian kabinet sudah ditentang Presiden tetapi pelaksanaannya tetap jalan terus,” paparnya.

Dia menilai kejadian ini tidak akan mempengaruhi kepercayaan investor. Dengan catatan, kisruh rotasi direksi ini tidak berlarut-larut sehingga mengganggu fundamental kinerja perseroan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memproyeksikan kepercayaan investor bisa anjlok apabila masalah rotasi direksi ini berlarut-larut. Dia mencontohkan saham BTN yang sudah tergerus dalam sepekan terakhir.

“[Penurunan harga saham BTN] akibat ketidakpercayaan kebijakan RUPSLB Menteri BUMN,” jelasnya.

Dia menilai karyawan dan direksi akan mengalami demotivasi. Pasalnya, perombakan direksi dan komisaris tidak berdasarkan penilaian kinerja.

“Bisa dibayangkan Suprajarto yang merintis karier di BRI [UMKM] kemudian dilempar ke BTN yang fokus bisnisnya berbeda,” ujarnya.

jokowi moeldoko

Talent Pool

Managing Director Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LM FE UI) Toto Pranoto menjelaskan bahwa dalam konteks BUMN, ada sistem yang dikembangkan bernama talent pool. Dalam skema itu, talenta terbaik pelat merah bisa ditempatkan di mana saja sesuai kebutuhan strategis Kementerian BUMN.

“Pergantian manajemen BUMN dilakukan karena pertimbangan tertentu. Normalnya masa jabatan 5 tahun tetapi dalam kontrak manajemen disebutkan board of directors bisa diganti kalau misalnya kinerja tidak sesuai target atau alasan spesifik lainnya,” paparnya.

Dalam jangka pendek, Toto memprediksi investor perbankan dapat bereaksi dengan melakukan aksi jual. Akan tetapi, kondisi itu akan berbalik dalam jangka panjang.

“Industri ini [perbankan] sangat lukratif jadi investor pasti akan koleksi kembali [saham perbankan BUMN],” imbuhnya.

Akankah perombakan jajaran pengurus sejumlah BUMN yang diracik oleh Rini Soemarno berbuah manis? Kita tunggu saja kejutan selanjutnya…

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn, fokus

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top