Analis Rekomendasikan Investor Masuk Pasar Obligasi, Ini Alasannya

Pasar obligasi yang outperform dari pasar saham dinilai memiliki lebih banyak katalis positif ditopang oleh pemangkasan suku bunga dari Bank Indonesia pekan lalu.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  15:13 WIB
Analis Rekomendasikan Investor Masuk Pasar Obligasi, Ini Alasannya
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Sejumlah analis menyarankan investor untuk masuk ke pasar obligasi untuk jangka pendek.

Pasalnya, pasar obligasi yang outperform dari pasar saham dinilai memiliki lebih banyak katalis positif ditopang oleh pemangkasan suku bunga dari Bank Indonesia pekan lalu.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyampaikan, setidaknya sampai akhir tahun ini investor bisa mencermati pasar obligasi terlebih dahulu.

“Kelihatannya memang pasar obligasi yang lebih menarik,” kata Hans kepada Bisnis, Minggu (25/8/2019).

Dirinya menjelaskan, pemangkasan suku bunga 7-Day Reserve Repo Rate (7-DRRR) ke level 5,5% pada pekan lalu dapat menurunkan yield obligasi.

Sementara dampaknya ke pasar saham, diperkirakan baru terjadi dalam jangka menengah karena delay kredit biasanya memakan waktu 3—6 bulan.

Selanjutnya, apabila Bank Indonesia dapat menurunkan suku bunga ke level 5,0% dan 5,25% dalam jangka menengah, Hans menilai hal itu dapat semakin menggairahkan bisnis dan pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

Adapun, dampak pemangkasan suku bunga pekan lalu terhadap pergerakan IHSG hanya terasa sehari, yang tercermin lewat penguatan indeks sebesar 0,26% menjadi 6.255 pada akhir perdagangan Jumat (23/9/2019).

“Jadi, secara jangka menengah akan bagus bagi ekonomi Indonesia dan bagus bagi IHSG,” imbuh Hans.

Sementara dalam jangka pendek ini, IHSG masih mendapat tantangan dari sentimen negatif perang dagang AS—China.

Kendati Presiden AS Donald Trump menunda pengenaan tarif untuk beberapa produk impor asal China menjadi Desember, tetapi produk asal China yang senilai US$100 miliar tetap akan terkena tarif sesuai waktu per 1 September 2019.

Hal itu pun membuat China membalas dengan mengenakan tarif sebesar 5%—10% untuk produk asal AS yang senilai US$75 miliar. Tarif tersebut akan berlaku pada 1 September 2019 dan 15 Desember 2019.

Ketengangan antara dua ekonomi terbesar di dunia ini pun kembali membuat pelaku pasar khawatir. Selain membawa ancaman perlambatan ekonomi global, perang dagang juga akan membuat modal keluar dari negara-negara berisiko di emerging market.

Nah, di tengah bunga turun, yield akan turun. Di sana, modal juga keluar sehingga rupiah bisa melemah. Itu yang menjadi risiko bagi kita,” jelas Hans.

Adapun, IHSG diperkirakan dapat reli kembali pada Oktober yang dinilai memperoleh sentimen positif dari terbentuknya kabinet baru. Dengan demikian, pada akhir tahun indeks diperkirakan Hans dapat menyentuh level 6.500—6.700.

Dengan potensi BI menurunkan suku bunga sekali lagi sebesar 25 bps menjelang akhir tahun, sektor perbankan dan properti dinilai menarik untuk dicermati investor.

Namun, Hans mengingatkan, prospek pemangkasan suku bunga bakal sedikit tertahan karena—selain perang dagang—The Fed baru-baru ini tidak memberikan pernyataan yang mengindikasikan penurunan suku bunga lebih lanjut.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyampaikan, setidaknya sampai akhir tahun ini investor bisa mencermati pasar obligasi terlebih dahulu.

“Kelihatannya memang pasar obligasi yang lebih menarik,” kata Hans kepada Bisnis, Minggu (25/8/2019).

Dirinya menjelaskan, pemangkasan suku bunga 7-Day Reserve Repo Rate (7-DRRR) ke level 5,5% pada pekan lalu dapat menurunkan yield obligasi.

Sementara dampaknya ke pasar saham, diperkirakan baru terjadi dalam jangka menengah karena delay kredit biasanya memakan waktu 3—6 bulan.

Selanjutnya, apabila Bank Indonesia dapat menurunkan suku bunga ke level 5,0% dan 5,25% dalam jangka menengah, Hans menilai hal itu dapat semakin menggairahkan bisnis dan pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

Adapun, dampak pemangkasan suku bunga pekan lalu terhadap pergerakan IHSG hanya terasa sehari, yang tercermin lewat penguatan indeks sebesar 0,26% menjadi 6.255 pada akhir perdagangan Jumat (23/9/2019)

“Jadi, secara jangka menengah akan bagus bagi ekonomi Indonesia dan bagus bagi IHSG,” imbuh Hans.

Sementara dalam jangka pendek ini, IHSG masih mendapat tantangan dari sentimen negatif perang dagang AS—China.

Kendati Presiden AS Donald Trump menunda pengenaan tarif untuk beberapa produk impor asal China menjadi Desember, tetapi produk asal China yang senilai US$100 miliar tetap akan terkena tarif sesuai waktu per 1 September 2019.

Hal itu pun membuat China membalas dengan mengenakan tarif sebesar 5%—10% untuk produk asal AS yang senilai US$75 miliar. Tarif tersebut akan berlaku pada 1 September 2019 dan 15 Desember 2019.

Ketengangan antara dua ekonomi terbesar di dunia ini pun kembali membuat pelaku pasar khawatir. Selain membawa ancaman perlambatan ekonomi global, perang dagang juga akan membuat modal keluar dari negara-negara berisiko di emerging market.

“Nah, di tengah bunga turun, yield akan turun. Di sana, modal juga keluar sehingga rupiah bisa melemah. Itu yang menjadi risiko bagi kita,” jelas Hans.

Adapun, IHSG diperkirakan dapat reli kembali pada Oktober yang dinilai memperoleh sentimen positif dari terbentuknya kabinet baru. Dengan demikian, pada akhir tahun indeks diperkirakan Hans dapat menyentuh level 6.500—6.700.

Dengan potensi BI menurunkan suku bunga sekali lagi sebesar 25 bps menjelang akhir tahun, sektor perbankan dan properti dinilai menarik untuk dicermati investor.

Namun, Hans mengingatkan, prospek pemangkasan suku bunga bakal sedikit tertahan karena—selain perang dagang—The Fed baru-baru ini tidak memberikan pernyataan yang mengindikasikan penurunan suku bunga lebih lanjut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top