Permintaan Batu Bara China Bakal Anjlok, Ini Alasannya

Kebijakan energi China semakin mendapat sorotan menjelang konferensi perubahan iklim besar-besaran Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada September.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  16:03 WIB
Permintaan Batu Bara China Bakal Anjlok, Ini Alasannya
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan batu bara China, importir terbesar di dunia, diproyeksikan akan amblas pada masa mendatang, setelah konsumsi di sektor pembangkit listrik dan sektor industri lainnya mencapai puncaknya.

CNPC Economics and Technology Research Institute yang dijalankan oleh China National Petroleum Corp (CNPC) dalam laporannya memperkirakan, konsumsi komoditas tersebut di China akan turun 18 persen dari 2018 hingga 2035. Kemudian turun lagi 39 persen dari 2018 hingga 2050.

“Seiring permintaan batu bara di China turun secara bertahap, konsumsi batu bara dunia diperkirakan akan mencapai puncaknya dalam 10 tahun. Sementara itu, permintaan batu bara China, saat ini terhitung separuh dari total dunia, akan turun menjadi sekitar 35 persen pada 2050,” kata laporan itu, Jumat (23/8/2019).

Pemangkasan konsumsi batu bara dan menggantinya dengan energi yang lebih bersih seperti gas alam dan energi terbarukan, telah menjadi bagian penting dari strategi energi China.

Akan tetapi, pada saat yang sama Negeri Panda terus menyetujui tambang baru dan pembangkit listrik tenaga batu bara. Selain itu, mereka juga mendukung proyek-proyek baru di luar negeri.

Data resmi menunjukkan, meskipun pangsa batu bara dalam campuran energi total negara itu turun menjadi 59 persen tahun lalu dari 68,5 persen pada 2012, konsumsi keseluruhan pada 2018 naik 3 persen dari tahun sebelumnya menjadi 3,82 miliar ton.

Namun, para peneliti CNPC memproyeksikan, total pangsa batu bara turun menjadi 40,5 persen pada 2035 karena kapasitas terbarukan, nuklir, dan gas alam terus meningkat dengan cepat.

Wakil Direktur China Energy Technology and Economics Research Institute Li Ruifeng mengatakan, batu bara masih akan menjadi bahan bakar utama China dalam 15 tahun mendatang. Pada saat bersamaan, tambang-tambang kecil ditutup dan digantikan oleh yang lebih besar serta lebih efisien.

Hal tersebut akan memaksa perusahaan-perusahaan pembangkit listrik di pantai timur China beralih ke pasar luar negeri. Untuk menjamin pasokan, mereka akan tetap mengimpor sekitar 200 juta ton per tahun pada tahun-tahun mendatang.

“Jika tidak ada hambatan perdagangan yang signifikan,” katanya.

China, penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, telah berjanji untuk menunjukkan ambisi setinggi mungkin, ketika negara itu memperbarui janji iklimnya tahun depan.

Kebijakan energi China semakin mendapat sorotan menjelang konferensi perubahan iklim besar-besaran Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada September.

Meskipun tidak jelas apa yang akan dijanjikan oleh Beijing, utusan iklim khusus Luis de Alba kepada Reuters pada Selasa (20/8/2019), mengatakan, PBB telah menerima tanggapan positif dari China dan India untuk mengakhiri investasi dalam batu bara.

“Tentu saja ada transisi yang perlu diperhitungkan. Tetapi pesan [tentang batu bara] itu sendiri jelas dan diterima dengan baik,” katanya.

Berdasarkan laporan British Petroleum Statistical Review of Energy 2019, konsumsi batu bara dunia pada tahun lalu hanya tumbuh 1,4 persen menjadi 3,77 miliar ton dari 3,71 milIar ton pada 2017. Sedangkan produksi dunia pada 2018 tumbuh 4,3 persen menjadi 3,91 miliar, dari 3,75 miliar ton pada 2017.

Untuk China, konsumsi batu bara mereka tumbuh hanya 0,09 persen pada tahun lalu menjadi 1,90 miliar ton dari 1,89 miliar ton pada 2017. Adapun produksinya pada tahun lalu mencapai 1,82 miliar ton atau tumbuh 4,7 persen dari 1,74 miliar ton pada 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, batubara

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top