Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PTPP Racik Perpetual Bond untuk Investor Ritel

PT PP (Persero) Tbk. masih mempertimbangkan penerbitan surat berharga perpetual atau perpetual bond yang membidik investor ritel.
Direktur Keuangan PT PP Agus Purbianto memberikan penjelasan pada jumpa pers di Jakarta, Senin (30/10)./JIBI-Nurul Hidayat
Direktur Keuangan PT PP Agus Purbianto memberikan penjelasan pada jumpa pers di Jakarta, Senin (30/10)./JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA— PT PP (Persero) Tbk. tengah meracik penerbitan surat berharga perpetual yang menyasar investor ritel.

Agus Purbianto, Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PP, mengatakan perseroan masih mempertimbangkan penerbitan surat berharga perpetual atau perpetual bond. Akan tetapi, emisi kali ini akan berbeda dari sebelumnya.

Agus mengungkapkan tengah membahas emisi instrumen itu dengan salah satu sekuritas. Nantinya, instrumen itu akan ditawarkan kepada investor dengan harga Rp10.000 per unit.

Artinya, lanjut Agus, surat berharga perpetual perseroan akan menyasar investor ritel. Menurutnya, emiten berkode saham PTPP itu memiliki pertimbangan tersendiri untuk melakukan emisi tersebut.

“Produk ini untuk memperluas base investor supaya masyarakat ikut dalam pendanaan infrastruktur. Targetnya kami tidak memasang besar karena secara cost of fund mahal juga,” ujarnya di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Agus mengatakan bahwa perseroan memiliki izin penerbitan surat berharga perpetual hingga Rp1 triliun. Dengan demikian, setelah emisi Rp150 miliar sebelumnya, PTPP masih memiliki ruang emisi hingga Rp850 miliar.

“Perpetual ini juga menjadi role model bahwa ada instrumen yang bisa merelaksasi balance sheet karena bisa dicatatkan sebagai debt dan equity,” imbuhnya.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, PTPP telah menerbitkan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) berbasis surat berharga perpetual (SBP) Tahap I 2018 dengan jumlah pokok Rp150 miliar. Tingkat kupon untuk SBP tersebut berada di level 9,04%.

Selain surat berharga perpetual, Agus menyebut perseroan juga mempertimbangkan emisi obligasi di pasar domestik. Jumlah yang akan diemisi mencapai Rp1,5 triliun.

“Obligasi Rp1,5 triliun kalau tidak akhir 2019 ya awal 2020,” jelasnya.

Dia menambahkan dana yang dihimpun dari obligasi akan digunakan perseroan untuk berinvestasi. Beberapa pekerjaan yang diincar antara lain sistem penyediaan air minum (SPAM) dan pembangkit listrik energi terbarukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ana Noviani

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper