Pasar Respons Negatif Fenomena Kurva Imbal Hasil, IHSG Turun Tajam

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpeleset ke zona merah dan turun tajam pada awal perdagangan hari ini, Kamis (15/8/2019), di tengah pelemahan pasar saham global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  09:33 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpeleset ke zona merah dan turun tajam pada awal perdagangan hari ini, Kamis (15/8/2019), di tengah pelemahan pasar saham global.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,98 persen atau 61,54 poin ke level 6.205,79 pada pukul 09.16 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (14/8), IHSG mampu berakhir menguat 0,91 persen atau 56,37 poin di level 6.267,33. Indeks mulai tergelincir dari penguatannya dengan dibuka turun tajam 1,19 persen atau 74,88 poin di level 6.192,46 pagi ini.

Seluruh sembilan sektor bergerak negatif, dipimpin industri dasar (-1,44 persen), pertanian (-1,41 persen), dan aneka industri (-1,39 persen).

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing turun 1,58 persen dan 1,62 persen menjadi penekan utama atas pelemahan IHSG.

Rata-rata indeks saham lain di Asia juga melemah pagi ini. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing merosot 1,33 persen dan 1,29 persen.

Di China, dua indeks saham utamanya Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing melemah 1,09 persen dan 0,96 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,67 persen pukul 09.16 WIB.

Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, IHSG diperkirakan akan melemah karena terseret kekhawatiran pelemahan ekonomi global.

Dipapaparkan, bursa saham AS ditutup turun signifikan pada perdagangan Rabu (14/8). Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 3,05 persen ke level 25.479,42, indeks S&P 500 turun tajam 2,93 persen ke 2.840,6, dan Nasdaq Composite merosot 3,02 persen ke level 7.773,94.

Pasar saham merespons negatif fenomena inversi kurva imbal hasil atau yield obligasi AS 10 tahun yang berada dibawah obligasi AS 2 tahun. Hal ini mengindikasikan ekspektasi sinyal resesi ekonomi pada 6-18 bulan ke depan.

Menambah tekanan pasar akan kekhawatiran pelemahan ekonomi global, data PDB kuartal II/2019 Jerman terkontraksi 0,1 persen qoq dibandingkan dengan kuartal I/2019 yang naik 0,4 persen qoq.

Dari dalam negeri, hari ini akan ada rilis data Neraca Perdagangan Indonesia Juli 2019, dengan survei defisit US$420 juta, ekspor -11,2% yoy dan impor -17,76% yoy.

“Kami sendiri memperkirakan surplus sekitar US$500 juta. Adapun IHSG hari ini kami perkirakan berbalik melemah seiring tekanan dari global yang cukup besar,” papar tim Samuel Sekuritas melalui riset yang dikutip dari laman resminya.

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah tergelincir dan melemah 45 poin atau 0,32 persen ke level Rp14.290 per dolar AS pukul 09.16 WIB, setelah ditutup menguat 80 poin atau 0,56 persen di posisi 14.245 pada Rabu (14/8).

Sementara itu, indeks Bisnis-27 turun tajam 1,13 persen atau 6,25 poin ke level 545,89 pukul 09.16 WIB, setelah berakhir menguat 0,96 persen atau 5,23 poin di posisi 552,14 pada Rabu (14/8).

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top