Konstruksi Tambang Batu Bara di China Melonjak

Regulator energi China dikabarkan telah memberikan lampu hijau untuk pembangunan fasilitas produksi batu bara dengan kapasitas 141 juta ton sepanjang Januari-Juni 2019.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  17:07 WIB
Konstruksi Tambang Batu Bara di China Melonjak
Tambang batu bara. - Bloomberg/Luke Sharrett

Bisnis.com, JAKARTA – Persetujuan konstruksi tambang batu bara di China dilaporkan telah melonjak pada tahun ini.

Hal tersebut terungkap dari dokumen pemerintah seperti yang dilansir Reuters pada Selasa (6/8/2019).

Reuters dalam analisanya terhadap dokumen itu mencatat, regulator energi China telah memberikan lampu hijau untuk pembangunan fasilitas produksi batu bara dengan kapasitas 141 juta ton sepanjang Januari-Juni 2019.

Estimasi tersebut naik 5 kali lipat dibandingkan dengan persetujuan izin tambang pada 2018 yang kapasitas produksinya hanya 25 juta ton.

Dokumen National Energy Administration (NEA) menunjukkan, proyek-proyek tambang baru tersebut berada di wilayah Inner Mongolia, Xinjiang, Shanxi, dan Shaanxi. Wilayah-wilayah tersebut merupakan bagian dari strategi nasional untuk menjadikannya sebagai basis produksi. Namun, NEA tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Dalam laporan itu, Beijing memperkirakan konsumsi komoditas tersebut akan tumbuh pada tahun-tahun mendatang. Bahkan, ketika mereka berusaha melawan emisi asap dan gas rumah kaca dengan memangkas produksi dan konsumsi batu bara demi tujuan energi, lingkungan, dan iklim China.

Beijing membidik peningkatan pangsa bahan bakar non-fosil dalam bauran energi keseluruhan dari 14,3% pada saat ini menjadi 15% pada akhir tahun depan dan 20% pada 2030. Hal itu memangkas pangsa batu bara menjadi 59% pada tahun lalu, turun dari 68,5% pada 2012.

Lauri Myllyvirta, analis energi Greenpeace mengatakan, banyak dari proyek batu bara yang disetujui kemungkinan akan menggantikan tambang tua dan kecil.

"Akan tetapi, sangat mengkhawatirkan bahwa perencanaan energi China tampaknya masih mempertahankan tingkat produksi batu bara saat ini, untuk satu atau dua dekade mendatang. Sangat sulit untuk direkonsiliasi dengan tujuan perjanjian Paris [tentang perubahan iklim]," katanya.

Dia menambahkan, mengingat bahwa konsumsi minyak dan gas masih meningkat, sangat penting bahwa penggunaan batu bara mulai turun lagi setelah pulih selama 3 tahun terakhir.

Produksi batu bara China naik 2,6% di paruh pertama 2019 menjadi 1,76 miliar ton, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Sementara itu, kelompok-kelompok industri masih mengharapkan kapasitas tenaga batu bara meningkat selama beberapa tahun ke depan, dengan investasi dalam nuklir dan energi terbarukan masih tidak cukup untuk menutupi meningkatnya permintaan energi.

Unit penelitian dari China State Grid Corporation bulan lalu memperkirakan, total pembangkit listrik berbahan bakar batu bara akan mencapai puncaknya sekitar 1.230-1.350 gigawatt (GW), yang berarti peningkatan sekitar 200-300 GW.

Sebuah penelitian yang diterbitkan awal tahun ini juga menyarankan target China akan memungkinkan pembangunan 290 GW kapasitas lain untuk batu bara di tahun-tahun mendatang.

Michelle Manook, kepala eksekutif World Coal Association mengatakan, batu bara tetap merupakan elemen penting dalam transisi dunia menuju energi yang lebih bersih, dan fokusnya harus pada pengurangan emisi daripada larangan sama sekali terhadap komoditas tersebut.

“Hal ini bukan tentang beralih dari satu sumber energi saja. Melainkan tentang transisi ke energi yang lebih bersih, dan dengan investasi, batu bara memiliki peran penting,” katanya kepada Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, batu bara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top