Menanti Berkah Emiten 'Koalisi' Jokowi-Amin

Kemenangan politisi dalam sebuah pertandingan politik bukan hanya membutuhkan dukungan moral, tetapi juga modal, termasuk dari para pengusaha.
Yodie Hardiyan
Yodie Hardiyan - Bisnis.com 05 Agustus 2019  |  13:07 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo terus melempar senyum saat menghadiri acara pembagian sertifikat tanah di Bogor, Jawa Barat pada pertengahan Maret lalu.

Tidak tampak raut kelelahan di wajah mantan pengusaha mebel tersebut.

Pagi berlalu dan udara terik siang mulai terasa. Jokowi melanjutkan perjalanan dari Bogor menuju Jakarta.

Presiden ingin menjajal Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta, sebuah megaproyek yang pernah digarap ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Kehadiran Jokowi disambut masyarakat dengan antusias, walaupun hari itu, Kamis (21/3/2019), merupakan kedua kalinya Presiden mencoba MRT. Sebalumnya, Jokowi sempat mencoba MRT terlebih dahulu dengan para menteri Kabinet Kerja pada Selasa (19/3/2019).

Yang berbeda, dalam percobaan kedua ini, Jokowi tidak hanya didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, tetapi juga bersama pemimpin redaksi dari sejumlah media massa serta para artis ibu kota yang rata-rata baru pertama kali ini mencoba MRT Jakarta.

Selain itu, pada peninjauan kali ini, Presiden Jokowi dan Ibu Negara mengawalinya dengan terlebih dahulu naik bis Transjakarta hingga Stasiun MRT di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta.

Dari Stasiun Bundaran HI, Presiden naik MRT hingga Stasiun Lebak Bulus. Setelahnya, Presiden kembali naik MRT dari Stasiun Lebak Bulus menuju Stasiun Bundaran HI. Namun, Presiden dan rombongan turun di Stasiun Senayan.

Di Stasiun Senayan, Presiden Jokowi memberikan keterangan pers, sebelum melanjutkan perjalanannya menghadiri kegiatan di kawasan Senayan, Jakarta pada malam harinya.

Dalam masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 dengan tensi politik yang panas, hari itu adalah hari yang menarik karena dua kelompok pengusaha mendeklarasikan dukungan untuk dua calon presiden yang berbeda.

Di Istora Senayan, Jakarta, sekelompok pengusaha yang menyebut dirinya sebagai "Pengusaha Pekerja Pro Jokowi (KerJo)" menyatakan dukungannya kepada pasangan nomor urut 01, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin.

Sementara itu, di Djakarta Theater yang berjarak sekitar 6,6 kilometer dari Istora, sekelompok pengusaha lainnya mendukung lawan politik Jokowi-Ma'ruf yaitu pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Selain tokoh agama, alumni sekolah, pensiunan tentara, organisasi masyarakat dan sebagainya, pengusaha adalah kelompok lain di masyarakat yang mendeklarasikan dukungannya di Pemilihan Presiden 2019.

Peran mereka tidak bisa dibilang sepele dalam blantika politik nasional. Kemenangan politisi dalam sebuah pertandingan politik bukan hanya membutuhkan dukungan moral, tetapi juga modal, termasuk dari para pengusaha.

Jokowi-Ma'ruf akhirnya memenangkan pertandingan politik itu. Pasangan politisi dari latar belakang yang kontras itu dipastikan menang setelah Mahkamah Konstitusi menolak seluruh gugatan hasil Pilpres 2019 yang diajukan oleh Prabowo-Sandiaga pada Juni 2019.

Setelah Jokowi-Ma'ruf menang, apakah para pengusaha atau pebisnis yang mendukung pasangan itu akan mendapatkan keuntungan melalui perusahaan yang mereka miliki atau kelola? Apa keuntungannya? Bagaimana mereka mendapatkannya?

Sulit untuk menjawab sejumlah pertanyaan tersebut. Namun, kita tentunya mengenal istilah 'tidak ada makan siang gratis'.

Dukungan yang diberikan pengusaha, tetaplah tidak gratis, entah akan dibayar saat ini atau pada masa mendatang.

Bisnis mencoba memetakan peta dukungan pengusaha atau pebisnis kepada Jokowi beserta perusahaan yang dimiliki pengusaha tersebut.

Dukungan pengusaha kepada Jokowi setidaknya dapat diketahui berdasarkan kehadiran mereka dalam acara deklarasi, kepengurusan dalam partai politik pendukung atau keterlibatan dalam Tim Kampanye Nasional (TKN).

Perusahaan yang dimaksud terutama adalah perusahaan yang sahamnya telah diperjual-belikan di Bursa Efek Indonesia atau berstatus terbuka.

Menarik untuk memperhatikan kinerja saham perusahaan yang dimiliki atau dikelola oleh pengusaha atau pebisnis pro-Jokowi dalam periode kedua Jokowi pada 2019 sampai 2024 tersebut.

PETA DUKUNGAN

Seperti diketahui, dalam acara yang bertajuk "10.000 Pengusaha Deklarasi Dukung Jokowi-Ma'ruf" di Istora Senayan, sejumlah pengusaha nasional hadir dan menyatakan dukungannya kepada Jokowi-Ma'ruf.

Sejumlah pengusaha papan atas yang hadir di acara itu antara lain Shinta Widjaja Kamdani (grup Sintesa), Alim Markus (grup Maspion), Sofjan Wanandi (Gemala Group), Arifin Panigoro (Medco Energi), Garibaldi Thohir (Adaro Energy), Anindya Novan Bakrie (grup Bakrie), Erick Thohir (grup Mahaka), Hariyadi Sukamdani (grup Sahid), Roslan Roeslani (grup Recapital) dan sebagainya.

Di acara itu tampak pula Bobby Gafur Umar (komisaris PT Bakrie & Brothers Tbk.), Ade Sudrajat (Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia/API), Adhi Siswaja Lukman (Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia/Gapmmi), Saleh Husin (mantan Menteri Perindustrian, Managing Director Sinarmas) dan sebagainya.

Selain dalam kehadiran itu, dukungan pengusaha kepada Jokowi juga tampak dalam kepengurusan partai politik pendukung. Salah satunya adalah Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindi) Harry Tanoesoedibjo (grup MNC) yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung Prabowo dalam Pilpres 2014. Perubahan haluan Hary itu tampak tidak lama setelah kasus Mobile 8 yang menyeret dirinya diungkap kembali oleh aparat negara ke publik.

Selain Harry, pengusaha sekaligus ketua umum partai politik yang mendukung Jokowi adalah Oesman Sapta Odang. Oso, begitu nama dia biasa disingkat dan disapa, adalah pengusaha yang memiliki Grup Oso yang mengelola banyak perusahaan di berbagai sektor seperti properti, investasi sampai pertambangan. 

Dukungan pengusaha juga dapat dilihat dalam keterlibatan di TKN, tim yang dibentuk untuk mengelola kampanye Jokowi-Ma'ruf. Ketua TKN adalah Erick Thohir (grup Mahaka), Bendahara TKN adalah Sakti Wahyu Trenggono (PT TRG Investama) dan anggota Dewan Pengarah TKN yang sekaligus merupakan Wakil Presiden adalah Jusuf Kalla (grup Kalla).

Sementara itu, di kubu Prabowo-Sandiaga Uno, sejumlah pengusaha yang mendukung pasangan itu antara lain Erwin Aksa (grup Bosowa), Hashim Djojohadikusumo (adik Prabowo, mengelola sejumlah bisnis). Sandiaga sendiri merupakan pengusaha dengan sejumlah portofolio bisnis, salah satunya Saratoga.

Dari sejumlah pengusaha pro-Jokowi, mereka terafiliasi dengan sejumlah perusahaan terbuka.
Daftar ini belum termasuk perusahaan yang dimiliki oleh pengusaha yang menyatakan dukungannya tidak secara terang-terangan. Bukan tidak mungkin, jumlah saham itu bisa lebih panjang dari daftar yang terkumpul tersebut.

Dari sejumlah pengusaha yang menyatakan dukungannya kepada Jokowi dalam Pilpres 2019, Garibaldi "Boy" Thohir dan Hary Tanoesoedibjo tercatat sebagai pengusaha yang memiliki perusahaan terbuka (sahamnya ditransaksikan di BEI) paling banyak. Setidaknya empat saham perusahaan dimiliki oleh Boy Thohir yaitu ADRO, ESSA, PORT, MDKA dan WOMF.

Dari sejumlah saham itu, salah satu saham yang banyak diperhatikan oleh analis adalah ADRO. Berdasarkan data terminal Bloomberg per 1 Agustus 2019, sebanyak 19 analis merekomendasikan beli, 5 (tahan) dan 1 (jual) saham ADRO. Dengan target harga (konsensus) Rp1.660, ADRO punya potensi kenaikan sekitar 34%.

Salah satu saudara kandung Boy, Erick Thohir juga memiliki saham perusahaan terbuka seperti ABBA dan MARI. Kendati demikian, kapitalisasi pasar dua perusahaan itu tidak sebesar ADRO yang dimiliki oleh Boy.

Di samping duo Thohir, Hary Tanoesoedibjo yang dikenal dengan nama HT juga memiliki banyak perusahaan go public. Delapan saham perusahaan HT ditransaksikan di BEI di mana sejumlah perusahaan itu saling terafiliasi. HT mengendalikan portofolionya melalui HT Investment Ltd. Salah satu saham yang sering diulas oleh para analis dari perusahaan sekuritas adalah MNCN.

Berdasarkan data Bloomberg per 1 Agustus 2019, sebanyak 10 analis merekomendasikan beli, 4 (tahan) dan 0 (jual) saham MNCN. Dengan target harga (konsensus) Rp1.402, MNCN punya potensi kenaikan sekitar 0,8%. Sejak awal tahun, harga MNCN sudah naik lebih dari 90%.

Salah satu riset terbaru tentang MNCN yang dirilis oleh Sucor Sekuritas merekomendasikan beli untuk MNCN dengan target harga Rp1.720.

Sejumlah risiko yang dihadapi MNCN, seperti ditulis oleh analis Marlene Tanumihardja, antara lain pertumbuhan ekonomi yang lebih buruk daripada yang diperkirakan sampai ketidakstabilan politik dan inkosistensi yang berkaitan dengan regulasi penyiaran dan media.

Sementara itu, saham perusahaan lain yang dimiliki pengusaha pro-Jokowi adalah MEDC. Medco Energi dimiliki oleh Arifin Panigoro, salah seorang pengusaha kawakan.

Berdasarkan data Bloomberg per 1 Agustus 2019, sebanyak tujuh analis merekomendasikan beli serta tidak ada yang merekomendasikan tahan atau jual saham MEDC. Dengan target harga (konsensus) Rp1.077, MEDC punya potensi kenaikan sekitar 28%.

Salah satu riset Samuel Sekuritas yang mengulas MEDC menargetkan harga Rp1.200. Saham MEDC diyakini masih di bawah harga semestinya (undervalued). Seperti ditulis oleh Todd Showalter dan Nyoman Prabawa dalam riset pada Juni 2019, saham MEDC memiliki sejumlah risiko, salah satunya penurunan ekonomi global.

Sejauh ini, tidak banyak analisa yang menghubungkan antara dukungan politik dari pemilik perusahaan terhadap capres tertentu dan kenaikan harga saham perusahaan tersebut. Harga saham diyakini lebih banyak dipengaruhi kinerja atau situasi fundamental perusahaan tersebut.

Namun, seperti kita tahu, tidak ada alasan tunggal bagi investor atau trader yang memiliki beragam latar belakang dalam bertransaksi saham.

Desas-desus, rumor, gosip atau selentingan masih beredar di pasar saham Indonesia, termasuk soal pengaruh dukungan pengusaha kepada capres tertentu terhadap kinerja saham. 

Sebagai pengingat, kinerja saham sejumlah perusahaan yang dimiliki oleh pengusaha pro-Jokowi mencapai masa keemasannya pada periode pemerintahan 2014-2019.

Ya, sejumlah pengusaha juga mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014. Untuk menyebut sejumlah contoh, mereka antara lain Luhut Panjaitan (pemilik TOBA) dan Hariyadi Sukamdani (anggota keluarga pemegang saham SHID).

Mengacu kepada data penutupan harga saham harian, harga SHID mencapai titik tertinggi sebesar Rp5.300 pada 25 Januari 2019.

Pada 20 Oktober 2014 atau pada saat Jokowi-Jusuf Kalla dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2014-2019, harga SHID hanya Rp285. Artinya, dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, harga SHID naik lebih dari 1.700%.

Demikian pula TOBA. Setelah IPO pada Juni 2012, harga TOBA mencapai harga tertinggi sejak IPO (all time high) sebesar Rp693 pada 16 Maret 2018.  Dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun sejak pelantikan Jokowi-JK, harga TOBA naik lebih dari 200%. Tentu saja tidak bisa disimpulkan bahwa kenaikan harga saham itu semata-mata hanya karena satu faktor. Seperti diketahui, setiap investor/trader memiliki alasan yang berbeda-beda ketika memutuskan transaksi. 

Nah, bagaimana kinerja saham dari perusahaan yang terafiliasi dengan pengusaha pro-Jokowi itu pada 2019-2024? Kita tunggu saja....

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, kinerja emiten, Pilpres 2019

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top