Hindari Tarif Impor, Pendiri Perusahaan Aluminium China Didakwa Pengadilan AS

Miliarder China, pendiri perusahaan aluminium asal China, didakwa oleh Dewan Juri Los Angeles AS atas dakwaan rencana untuk menghindari tarif US$1,8 miliar dolar dengan menyelundupkan aluminium ke AS.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  19:37 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Miliarder China, pendiri perusahaan aluminium asal China, didakwa oleh Dewan Juri Los Angeles AS atas rencana untuk menghindari tarif US$1,8 miliar dolar dengan menyelundupkan aluminium ke AS.

Departemen Kehakiman California mengatakan bahwa Liu Zhongtian, Presiden Direktur China Zhongwang Holdings Ltd. hingga 2017 sekaligus pendiri perusahaan tersebut, berbohong kepada bea cukai AS untuk menghindari pembayaran tarif impor pada produk aluminium awal dekade ini.

"Dakwaan ini menguraikan praktik-praktik tidak bermoral dan anti-persaingan dari seorang pengusaha yang korup," ujar salah satu jaksa penuntut seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (1/8/2019).

Adapun, tuduhan itu merupakan ancaman terbaru dan paling serius yang dihadapi Zhongwang, produsen aluminium terbesar di China yang digunakan untuk onderdil dan konstruksi, dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2015, Liu menolak tuduhan dari Carson Block's Muddy Waters LLC, karena diduga merekayasa pendapatan dan secara tidak langsung mengalihkan ekspor melalui pihak-pihak terkait.

Kemudian pada 2017, tawarannya untuk membeli perusahaan saingannya asal AS diblokir regulator dan pada tahun yang sama, perusahaan itu membantah klaim perusahaan tersebut terhubung dengan cadangan aluminium AS ilegal.

Dalam menanggapi dakwaan AS, yang juga termasuk pencucian uang dan menipu investor, Zhongwang mengatakan bahwa pihaknya secara ketat telah mematuhi hukum perdagangan China dan luar negeri.

Zhongwang juga mengatakan bahwa baik perusahaan maupun pemiliknya tidak menerima pemberitahuan apapun terkait dengan proses hukum yang tengah terjadi di AS.

Sementara itu, dakwaan AS terhadap miliarder Tiongkok dan perusahaannya tersebut datang pada waktu yang sensitif mengingat hubungan kedua negara masih dalam situasi yang tegang, dan dapat berisiko ditafsirkan melalui kacamata politik.

Hingga akhirnya peristiwa ini dapan menjadi sentimen negatif bagi harga aluminium yang telah tertekan akibat lemahnya permintaan sebagai imbas dari perang dagang yang berkelanjutan.

Berdasarkaan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (1/8/2019) harga aluminium di bursa Shanghai melemah 0,36% menjadi 13.860 yuan per ton, sedangkan harga aluminium di bursa London pada perdagangan Rabu (31/7/2019) ditutup di level US$1.799 per ton, melemah 0,22%.

Di sisi lain, Pada Rabu (31/7/2019), AS dan China mengakhiri babak baru perundingan dagang setelah sempat terhenti selama 3 bulan, tanpa adanya kemajuan yang berarti untuk mengakhiri pertikaian kedua negara yang berkepanjangan.

Industri aluminium China, yang terbesar di dunia, telah menjadi momok bagi perdagangan jauh sebelum Donald Trump terpilih sebagai Presiden.

AS merencanakan kenaikan tarif sebagian besar karena produsen AS berpendapat pihaknya tidak dapat bersaing dengan membanjirnya pasokan aluminium dan baja dari China ke pasar internasional.

Adapun, perusahaan-perusahaan China telah menghadapi beberapa tindakan anti-dumpin pada 10 tahun terakhir. Perusahan China pun secara konsisten menemukan berbagai cara untuk menghindari tarif anti-dumping sebanyak 400% dan upaya lain untuk mengatasi ancaman ekonomi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
alumunium

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top