Harga Minyak Mentah Melandai Menyusul Komentar Powell

Minyak minetah ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari dua pekan terakhir namun kemudian melandai setelah Gubernur Federal Reserve Jerome Powell tampaknya meredupkan harapan untuk penurunan suku bunga.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  07:09 WIB
Harga Minyak Mentah Melandai Menyusul Komentar Powell
Pertamina Hulu Mahakam, di RIG Maera, South Tunu, Blok Mahakam, Kalimantan Timur

Bisnis.com, JAKARTA – Minyak minetah ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari dua pekan terakhir namun kemudian melandai setelah Gubernur Federal Reserve Jerome Powell tampaknya meredupkan harapan untuk penurunan suku bunga.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman September melemah 0,4 persen atau 0,16 poin ke level US$57,89 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 17.16. setelah itutup menguat 0,9 persen ke level US$58,58, kenaikan harian kelima berturut-turut.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk kontrak September, yang berakhir Rabu, menguat 0,45 poin ke level US$65,17 per barel di ICE Futures Europe exchange pada akhir perdagangan. Kontrak Oktober yang lebih aktif melemah 0,24 poin ke US$64,39 per barel.

"Ada semacam keseimbangan teror antara kondisi makroekonomi dan pertumbuhan produksi AS yang bearish, serta semua ketegangan geopolitik di luar sana," kata Judith Dwarkin, kepala ekonom di RS Energy, seperti dikutip Bloomberg.

"Pasar saat ini berada dalam posisi statis," lanjutnya.

Meskipun The Fed memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam satu dekade pada hari Rabu, Powell mengatakan kepada wartawan itu bukan awal dari siklus pelonggaran kebijakan moneter untuk melindungi ekonomi.

Pernyataan tersebut membuat dolar AS melonjak, yang menjadi tanda bearish untuk penjualan minyak mentah.

Pernyataan hawkish Powell tersebut meluruhkan penguatan harga minyak yang dibuat sebelumnya pada hari setelah Departemen Energi AS mengatakan persediaan minyak mentah AS turun 8,5 juta barel pekan lalu, penurunan ketujuh berturut-turut yang lebih tinggi dari perkiraan industri dan analis.

Laporan dari Energy Information Administration menunjukkan total cadangan minyak AS berada di level terendah sejak akhir Mei. Total produk minyak bumi yang dipasok mencapai 21,1 juta barel dalam rata-rata empat pekan terakhir, tertinggi selama periode ini sejak tahun 1990.

48 negara bagian AS memompa 1 juta barel lebih banyak minyak mentah, karena pelambatan produksi minyak Teluk Meksiko karena Badai Barry mulai pulih.

"Laporan EIA itu sendiri konstruktif, tetapi faktor-faktor di luar pasar ini menekan harga," kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates LLC di Houston.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga minyak mentah

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top