Saham Asia Goyah di Tengah Kekhawatiran Kinerja Emiten

Pasar saham Asia goyah pada perdagangan Kamis (18/7/2019), mengekor pelemahan bursa saham Amerika Serikat menyusul tanda-tanda bahwa perang perdagangan AS-China dapat mengganggu pendapatan perusahaan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  15:51 WIB
Saham Asia Goyah di Tengah Kekhawatiran Kinerja Emiten
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar saham Asia goyah pada perdagangan Kamis (18/7/2019), mengekor pelemahan bursa saham Amerika Serikat menyusul tanda-tanda bahwa perang perdagangan AS-China dapat mengganggu pendapatan perusahaan.

Dilansir Reuters, indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang mundur 0,3 persen, sementara indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang melemah masing-masing 1,97 persen dan 2,11 persen, penurunan harian terbesar dalam empat bulan terakhir.

Saham China mengikuti dengan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 melemah masing-masing 1,04 persen dan 0,95persen, sementara indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,57 persen.

Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,31 persen setelah Bank of Korea secara tak terduga memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, menyusul ketidakpastian dari sengketa perdagangan dengan Jepang yang menambah kecemasan tentang prospek ekonomi.

Di Wall Street, ketiga indeks utama melemah pada hari Rabu kinerja CSX Corp yang lemah memicu kekhawatiran bahwa kebuntuan perdagangan yang berlarut-larut antara AS dan China dapat melukai pendapatan perusahaan AS.

Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump terus menekan Beijing dengan ancaman untuk mengenakan tarif tambahan pada barang-barang asal China senilai US$325 miliar, di tengah kegelisahan pasar ketika pembicaraan tatap muka akan dilanjutkan.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa kemajuan menuju kesepakatan perdagangan AS-China telah mandek, sementara pemerintahan Trump menentukan bagaimana mengatasi tuntutan Beijing untuk melonggarkan pembatasan terhadap Huawei Technologies.

Saham Netflix Inc anjlok setelah layanan video berlangganan paling dominan di dunia ini kehilangan pelanggan streaming di AS untuk pertama kalinya dalam delapan tahun dan meleset dari target pelanggan baru di luar negeri.

Obligasi Treasury AS juga melemah karena kekhawatiran tentang perang perdagangan AS-China mendorong permintaan aset safe haven dan setelah data menunjukkan pelemahan pasar perumahan AS.

Imbal hasil obligasi 10 tahun dan 30 tahun naik masing-masing lebih dari tujuh basis poin, masing-masing menjadi 2,06 persen dan 2,57 persen kemarin malam dan terakhir dikutip pada 2,04 persen dan 2,56 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top