Produksi Melonjak, Harga Batu Bara Turun Lebih dari 1 Persen

Harga batu bara di bursa Newcastle terus melemah lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Senin (15/7/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  08:02 WIB
Produksi Melonjak, Harga Batu Bara Turun Lebih dari 1 Persen
Pekerja berjalan di dekat timbunan batu bara, di Berau, Kaltim. - REUTERS/Yusuf Ahmad

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara di bursa Newcastle terus melemah lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Senin (15/7/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Agustus 2019 ditutup melemah 1,06 persen atau 0,80 poin di level US$74,70 per metrik ton dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (12/7/2019), harga batu bara kontrak Agustus melorot 1,69 persen atau 1,30 poin dan berakhir di level 75,50 (lihat tabel).

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif September 2019 ikut tertekan dan ditutup turun 0,57 persen atau 0,35 poin di level 60,80 pada perdagangan Senin (15/7).

Sebaliknya, harga batu bara thermal untuk pengiriman September 2019 di Zhengzhou Commodity Exchange, mampu ditutup naik tipis 0,1 persen atau 0,6 poin di level 583 yuan per metrik ton, setelah tertekan beberapa hari sebelumnya.

Dalam risetnya, China Coal Transport & Distribution Association menyatakan data yang menunjukkan lonjakan produksi batu bara China ke rekornya pada Juni telah menekan harga komoditas ini.

Produksi batu bara China pada Juni 2019 melonjak 6,7 persen dibandingkan dengan produksi pada Mei 2019 di tengah persiapan peningkatan permintaan listrik pada puncak musim panas.

Pada Juni 2019, produksi batu bara China mencapai 333,35 juta ton. Jumlah tersebut lebih tinggi 10,4 persen dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu.

Adapun produksi batu bara China sepanjang semester I/2019 telah mencapai 1,76 miliar ton atau naik 2,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Akan sulit bagi permintaan untuk meningkat lebih lanjut dalam jangka pendek karena curah hujan yang lebih tinggi menandakan bahwa suhu kemungkinan tidak naik secara signifikan,” terang asosiasi ini, dilansir dari Bloomberg.

China Coal Transport & Distribution Association memperkirakan harga batu bara dapat terus turun.

Di sisi lain, pedagang juga memperingatkan bahwa pembatasan impor batu bara Australia dapat tetap berlaku sepanjang sisa tahun ini, sebuah langkah yang diperkirakan akan merugikan perekonomian Australia jika perlambatan berlanjut hingga tahun depan.

Pedagang batu bara mengatakan pembatasan impor komoditas dari Australia diberlakukan awal tahun ini terlepas dari peningkatan impor batu bara kokas untuk memenuhi kuota pada Juni.

“Kuota impor batu bara kokas akan habis sekitar September dan waktu untuk melakukan kontrol ketat pada impor batu bara akan terjadi jauh lebih awal ketimbang tahun lalu,” ujar Jia Na, analis batu bara di Today Think Tank Energy.

Sejalan dengan batu hitam, harga minyak mentah di Amerika Serikat (AS) melemah ke bawah level US$60 per barel karena badai tropis yang menutup hampir tiga perempat produksi Teluk Meksiko di AS bergerak ke daratan.

Pada perdagangan Senin (15/7), minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Agustus ditutup turun 1,1 persen atau 0,63 poin di level US$59,58 di New York Mercantile Exchange. Adapun minyak Brent untuk kontrak September melemah 0,24 poin ke level US$66,48 di ICE Futures Europe Exchange.

Badai Barry dilaporkan menuju daratan dan melemah, pengebor pun telah mulai memasang kembali instalasi lepas pantai di Teluk Meksiko. Namun, pemerintah AS mengatakan sekitar 69 persen dari produksi minyak mentah masih ditutup dan telah turun dari 73 persen selama akhir pekan.

Sementara itu, data pemerintah China mencatat perlambatan terendah dalam tiga dekade terakhir pada kuartal kedua di tengah sengketa perdagangan yang berkepanjangan.

Direktur berjangka di Mizuho Securities USA, Bob Yawger mengatakan meskipun harga bertahan mendekati US$60 untuk sebagian besar sesi perdagangan, harga bergerak ke bawah level psikologis utama. Hal tersebut memicu aksi jual otomatis yang kemudian mempercepat penurunan.

Tyler Richey, co-editor di Sevens Report Research mengatakan pergerakan harga minyak mentah masih dalam tren yang menguat untuk jangka pendek.

“Namun resistensi teknis di kisaran level US$60 dan kekhawatiran lemahnya permintaan karena perang perdagangan kemungkinan akan mencegah harga menyentuh level tertinggi tertinggi baru untuk tahun ini," ungkap Richey, seperti dikutip dari Bloomberg.

Pergerakan harga batu bara kontrak Agustus 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

15 Juli

74,70

(-1,06 persen)

12 Juli

75,50

(-1,69 persen)

11 Juli

76,80

(-1,92 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top