REKOMENDASI SAHAM: CPO Masih Lesu, Bagaimana Prospek LSIP?

Di tengah kondisi industri sawit yang belum juga membaik, dapatkah saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. menembus target Rp1.420 pada akhir tahun?
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  15:17 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah kondisi industri sawit yang belum juga membaik, dapatkah saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. menembus target Rp1.420 pada akhir tahun?

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengungkapkan kinerja ekspor crude palm oil kian tergerus karena hambatan dagang dari beberapa negara tujuan utama ekspor.

India, misalnya, menaikkan tarif bea masuk minyak sawit sampai pada batas maksimum. Selain itu, Uni Eropa yang mulai mengadopsi Delegated Act RED II. Lalu, bagaimana dengan kinerja London Sumatra?

Analis Ciptadana Sekuritas Yasmin Soulisa menurunkan rekomendasinya dari tahan menjadi jual untuk emiten berkode saham LSIP tersebut. Pasalnya, LSIP sudah melampaui target harga yang ditetapkan oleh Ciptadana sebesar Rp1.030/saham. Adapun pada perdagangan saham Senin (15/7/2019), LSIP mencatat kenaikan tipis 0,45% atau sebesar 5 poin ke level Rp1.125.

Kendati demikian, Yasmin memproyeksikan price earning ratio (PER) LSIP akan membaik pada 2020 ke posisi 32,8 kali dari posisi 2019 sebesar 29,2 kali. Adapun return on equity selama 2019 diperkirakan 3,2% dengan enterprise value/earnings before interest, tax, depreciation, and amortization (EV/EBITDA) 10 kali. Sebagai informasi, PER LSIP sekarang di kisaran 48,91 dengan kinerja saham yang terus tergerus 10% selama tahun berjalan (year-to-date).

Selain itu, Yasmin menilai harga crude palm oil (CPO) tahun ini belum tentu akan membaik. Ciptadana memproyeksikan harga CPO pada 2019 di kisaran 2.300 ringgit per ton atau setara dengan US$555 per ton. Harga tersebut sejalan dengan proyeksi Gapki di kisaran US$550/ton-US$600/ton.

Ekspor CPO Indonesia tahun ini diperkirakan tumbuh 10% dibandingkan dengan tahun lalu menjadi 38,18 juta ton. Meskipun secara volume tumbuh, tetapi nilai ekspor minyak kelapa sawit diperkirakan menurun secara signifikan.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Sharlita Malik merekomendasikan beli untuk LSIP. Menurutnya, masih ada peluang penguatan harga CPO di semester II/2019 yang berpotensi mendorong kinerja LSIP yang lebih baik sampai akhir tahun. Dengan begitu, LSIP tetap menjadi pilihan utama dalam sektor perkebunan seiring dengan fundamental yang kuat.

“Kami merekomendasikan beli dengan target harga Rp1.420. Saat ini, LSIP memiliki 23% potensi kenaikan dan merefleksikan P/E’19 di 22,2 kali,” tulisnya dalam riset yang dilansir oleh Bloomberg.

Akan tetapi terdapat tiga resiko investasi. Pertama, kondisi cuaca yang kurang mendukung. Kedua, fluktuasi mata uang Malaysia. Ketiga, harga CPO yang di bawah estimasi.

Kendati demikian, Sharlita menilai volume penjualan CPO LSIP masih berpeluang meningkat 12% yoy menjadi 489.000 ton, meski harga jual rata-rata relatif stabil di level Rp 7.687/kg. LSIP, lanjutnya, diproyeksikan dapat memperoleh pendapatan Rp4,4 trilliun atau tumbuh 11% yoy. Sementara itu, laba bersih diperkirakan menembus Rp435 miliar tumbuh 32% yoy.

Lebih jauh, Sherlita memproyeksikan laba bersih LSIP pada 2020 dapa menyentuh Rp627 miliar dengan volume penjualan yang tumbuh 7% yoy dan harga jual rata-rata yang naik 9% yoy. Menurutnya, tingkat profitabilitas LSIP masih yang tertinggi di antara sektor perkebunan yang lain.

“Fokus LSIP dengan pure upstream, menyebabkan tingkat profitabilitas LSIP menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan perusahaan lain dalam cakupan analisa kami. Di sisi lain, LSIP tidak berencana untuk untuk melakukan pencairan utang dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini akan membuat LSIP menjadi perusahaan dengan fundamental yang baik yaitu, clean balance sheet dengan zero debt level,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top