Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PASAR OBLIGASI: Data Ekonomi AS dan China Berisiko Tekan Harga SUN

Pasar obligasi masih terdampak euforia pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell sehingga pelemahan harga SUN diperkirakan bakal lebih terbatas dibandingkan dengan pernyataan dovish pejabat The Fed itu.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 12 Juli 2019  |  09:18 WIB
PASAR OBLIGASI: Data Ekonomi AS dan China Berisiko Tekan Harga SUN
Memantau layar surat utang negara - Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Harga surat utang negara (SUN)di pasar sekunder diperkirakan bakal terkoreksi akibat rilis data ekonomi Amerika Serikat dan China.

Dalam hasil riset hariannya, Jumat (12/7/2019), analis fixed income Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Dhian Karyantono mengatakan data ekonomi AS dan China menjadi penggerak harga SUN pada perdagangan hari ini.

Sebenarnya, kata Dhian, pasar masih terdampak euforia pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell sehingga pelemahan harga SUN diperkirakan bakal lebih terbatas dibandingkan dengan pernyataan dovish pejabat The Fed itu.

“Data ekonomi AS dan Tiongkok diperkirakan mendorong turunnya harga SUN di pasar sekunder,” ujarnya.

Lebih lanjut, semalam data ekonomi AS dirilis dengan beberapa catatan. Perinciannya, untuk inflasi AS per Juni mencatatkan angka sesuai ekspektasi pasar yakni 1,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan inflasi inti melampaui ekspektasi pasar yakni 2,1%.

Selain data inflasi, telah dirilis pula klaim tunjangan pengangguran awal AS yakni sebesar 209.000 klaim atau lebih rendah dibandingkan dengan ekspektasi pasar, yaitu 223.000 klaim.

Menurut Dhian, pergerakan harga SUN hari ini pun bakal terdampak data neraca dagang China yang diperkirakan bakal muncul pada sesi kedua perdagangan.

Dia memproyeksikan surplus neraca dagang China pada Juni yang berada di kisaran US$39 miliar hingga US$41 miliar atau lebih rendah bila dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya yakni US$41,66 miliar. Artinya, angka ini pun lebih rendah dari konsensus pasar yakni US$45 miliar.

Untuk jangka pendek, dia menyarankan pelaku pasar agar tak melakukan transaksi hari ini karena kemungkinan rilis data ekonomi China yang bakal menjadi katalis negatif bagi rupiah dan turunnya harga SUN.

Sementara itu, untuk jangka panjang, dia merekomendasikan aksi hold hingga buy beberapa seri, seperti FR0078, FR0068, FR0080 dan FR0079. Lalu, dia merekomendasikan aksi hold seri-seri FR0059, FR0072, FR0075, FR0065, PBS014, PBS019, PBS021, PBS022, dan PBS015. Seri-seri ini menurutnya tergolong likuid bagi investor yang berorientasi long-term trading.

“Kami tidak merekomendasikan intraday trading hari ini. Hal tersebut, didasarkan pada kemungkinan rilis data Tiongkok, diperkirakan rilis sesi kedua perdagangan akan memberikan katalis negatif bagi pergerakan rupiah dan harga SUN sehingga secara umum tren pergerakan harga SUN akan menurun.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi
Editor : Ana Noviani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top