AS-China Mulai Dialog, Nikel Sentuh Level Tertinggi 3 Bulan

Seperti dilansir dari Bloomberg, Robert Lighthizer dan Steven Mnuchin berbincang via telepon dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He dan Menteri Perdagangan China Zhong San pada Selasa (10/7/2019), waktu Washington.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  10:27 WIB
AS-China Mulai Dialog, Nikel Sentuh Level Tertinggi 3 Bulan
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia, AS dan China, kembali membuka putaran baru pada perundingan perdagangannya sehingga mengirimkan sinyal positif terhadap harga nikel pada perdagangan Rabu (10/7/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (10/7/2019) hingga pukul 16.30 WIB, harga nikel berhasil menguat 1,4% menjadi US$12.880 per ton. Pada pertengahan perdagangan, nikel sempat menyentuh level US$12.970 per ton yang merupakan level tertinggi sejak 17 April 2019.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Robert Lighthizer dan Steven Mnuchin berbincang via telepon dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He dan Menteri Perdagangan China Zhong San pada Selasa (10/7/2019), waktu Washington.

"Kedua belah pihak akan melanjurkan perundingan ini sesuai dengan rencana," ujar pejabat pemerintahan AS tanpa memberikan detil lebih lanjut, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (10/7/2019).

Sentimen tersebut telah berhasil menaikkan harga logam dan meningkatkan harapan pasar bahwa AS dan China dapat menyelesaikan perang perdagangan yang telah berlansung sejak tahun lalu.

Kendati demikian, Analis Capital Economics Ross Strachan mengatakan bahwa fundamental penawaran dan permintaan yang lemah masih membayangi pasar nikel sehingga harga logam kemungkinan akan merosot ke level US$11.000 per ton pada akhir tahun.

"Permintaan sangat buruk dan penjualan mobil masih sangat lemah sehingga merusak proyeksi pergerakan nikel," ujar Ross seperti dikutip dari Reuters, Rabu (10/7/2019).

Senada, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengatakan bahwa pihaknya melihat risiko penurunan harga nikel global masih dari sisi permintaan yang disebabkan perkiraan turunnya impor bijjih besi China.

"Sementara itu, potensi kenaikan harga nikel masih dari sisi penawaran dengan perkiraan turunnya inventory nikel di bursa LME," Andy seperti dikutip dari publikasi risetnya, Rabu (10/7/2019).

Adapun, persediaan di gudang LME tercatat sebesar 153.612 ton menjadi jumlah terendah sejak 2013. Di sisi lain, stok di gudang Shanghai Futures Exchange (ShFE) meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa pekan terakhir menjadi 21.811 ton.

Selain itu, nikel yang selama ini dibayangi ketatnya pasokan global diproyeksikan berangsur pulih seiring dengan rencana Indonesia yang memperkirakan 3 smelter nikel akan mulai beroperasi pada 2019 dengan kapasitas proses tahunan sebesar 3,9 juta ton bijih.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, Nikel

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top