Cadangan dan Sumber Daya Naik, Bayan Resources (BYAN) Tetap Pertahankan Target 2019

PT Bayan Resources Tbk. mempertahankan panduan produksi tahun ini meski dilaporkan adanya kenaikan cadangan dan sumber daya batu bara perseroan berdasarkan laporan Joint Ore Reserves Committee yang disusun oleh PT RungePincockMinarco.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 02 Juli 2019  |  08:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bayan Resources Tbk. mempertahankan panduan produksi tahun ini meski dilaporkan adanya kenaikan cadangan dan sumber daya batu bara perseroan berdasarkan laporan Joint Ore Reserves Committee yang disusun oleh PT RungePincockMinarco.

Bayan Resources menyebut telah menerima laporan cadangan dan sumber daya batu open cut terbaru atau Joint Ore Reserves Committee (JORC) yang disusun oleh PT RungePincockMinarco (RPM) per 1 Januari 2019. Pernyataan terbaru itu telah diterima perseroan pada 27 Juni 2019.

Hasilnya, cadangan batu bara dilaporkan meningkat 55% dari laporan JORC 2012 sebanyak 764 juta ton menjadi 1.181 juta ton.

Selanjutnya, sumber daya batu bara meningkat 37% dari laporan JORC 2012 sebanyak 1.854 juta ton menjadi 2.543 juta ton.

Di tengah kenaikan itu, Manajemen BYAN menyatakan tidak merubah panduan produksi yang telah disampaikan oleh perseroan pada 2019.

“Tahun ini tidak berubah, sesuai dengan proyeksi yang kemarin kami sampaikan,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (1/7/2019).

Sementara itu, Direktur Utama Bayan Resources Dato’ Dr. Low Tuck Kwong mengatakan perseroan telah berinventasi dan melanjutkan investasi dalam pertumbuhan proyek Tabang atau Pakar Utara.

“Kenaikan cadangan saat ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari strategi di mana pekerjaan JORC baru-baru ini menyoroti bidang di mana kami perlu melakukan pengeboran tambahan untuk menaikkan cadangan lebih lanjut pada tahun-tahun mendatang,” paparnya.

BYAN memproyeksikan volume produksi berada di kisaran 32 juta MT hingga 36 juta MT pada 2019. Harga jual rata-rata diperkirakan US$46 per MT hingga US$48 per MT.

Sampai dengan kuartal I/2019, volume produksi batu bara perseroan mencapai 7,5 juta MT. Realisasi itu lebih rendah dari proyeksi 9,1 juta MT.

Dari situ, BYAN melaporkan pendapatan US$365,41 juta pada kuartal I/2019. Realisasi itu turun 10,44% dari US$408,00 juta pada kuartal I/2018.

Sebaliknya, beban pokok pendapatan BYAN itu naik 5,54% secara tahunan. Jumlah yang dikeluarkan naik dari US$200,83 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$211,96 per kuartal I/2019.

Beban penjualan perseroan tercatat naik signifikan pada kuartal I/2019. Pasalnya, pos tersebut naik 36,79% dari US$25,74 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$35,21 juta.

Dengan demikian, BYAN membukukan laba bersih US$84,23 juta pada kuartal I/2019. Pencapaian tersebut turun 30,85% dari US$121,81 juta pada kuartal I/2018.

Sebelumnya, Bayan Resources meneken perjanjian pasokan batu bara dengan Bangladesh-China Power Company (Pvt.) Limited (BCPCL). BCPCL merupakan usaha patungan antara North-West Power Generation Company Bangladesh Limited dan China National Machinery Import and Export Corporation (CMC).

Batu bara akan dipasok ke pembangkit tenaga listrik thermal 1.320 Megawatt (Mw) Payra fase pertama. Fasilitas itu telah dibangun di Kalapara Upazila, Distrik Patuakhali, Bangladesh Selatan.

Adapun, volume untuk 10 tahun pertama sebanyak 23 juta ton atau bernilai di atas US$1 miliar dengan menggunakan harga batu bara saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bayan resources, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top