Iran dan AS Masih Tegang, Harga Minyak Bertengger di Zona Hijau

Harga minyak mentah dunia masih memanas, Senin (24/6/2019), melanjutkan penguatan pada pekan lalu, disokong oleh ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, karena Washington telah mempersiapkan sanksi baru untuk Teheran.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 24 Juni 2019  |  16:35 WIB
Iran dan AS Masih Tegang, Harga Minyak Bertengger di Zona Hijau
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia masih memanas, Senin (24/6/2019), melanjutkan penguatan pada pekan lalu, disokong oleh ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, karena Washington telah mempersiapkan sanksi baru untuk Teheran.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 16.00 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate menguat 0,85% atau 0,49 poin ke level US$57,92 per barel, sementara harga minyak mentah Brent menguat 0,26% atau 0,17 poin ke level US$65,37 per barel.

Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengatakan, dia menyerukan pembatalan serangan militer balasan kepada Iran yang telah menembak jatuh drone AS. Kemudian, Trump mengatakan, Minggu (22/6/2019), dia tidak ingin berperang dengan rival abadinya tersebut.

Trump mengatakan, dia membatalkan serangan ke Iran karena berpotensi menghilangkan banyak nyawa secara tidak proporsional. Para pejabat Iran mengatakan kepada Reuters, Teheran menerima pesan dari Trump lewat Oman bahwa serangan AS terhadap Iran sudah dekat.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo juga mengatakan sanksi “signifikan” terhadap Iran akan diumumkan, Senin (23/6/2019) waktu setempat. Sanksi ini bertujuan menyumbat sumber daya yang digunakan Teheran untuk mendanai kegiatannya di Timur Tengah.

Meskipun demikian, dia menambahkan, AS siap bernegosiasi tanpa prasyarat dengan Iran. “Saya yakin bahwa pada saat mereka siap untuk benar-benar terlibat dengan kami, kami akan dapat memulai percakapan ini. Saya menantikan hari itu,” katanya.

Sementara itu, menurut para analis, pasokan global mungkin tetap ketat karena OPEC dan sekutunya termasuk Rusia sepertinya bakal memperpanjang pakta pemangkasan minyak mereka pada pertemuan 1-2 Juli di Wina, Austria.

"Perpanjangan dari pemotongan produksi OPEC + sampai akhir tahun tampaknya sangat mungkin disepakati,” kata bank investasi AS Jefferies dalam sebuah catatan.

Menurut bank itu, pasar mengharapkan perpanjangan pemangkasan. “Setiap kegagalan [kesepakatan] dapat menyebabkan harga minyak turun. Namun probabilitas mendukung pengekangan [produkesi,” tambahnya.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak, Senin (24/6/2019) waktu setempat, mengatakan bahwa kerja sama internasional dalam produksi minyak mentah telah membantu menstabilkan pasar minyak.

 “Ada contoh yang baik dari kerja sama yang sukses dalam menyeimbangkan pasar minyak antara negara-negara OPEC dan non-OPEC. Berkat upaya bersama, kita hari ini melihat stabilisasi pasar minyak dunia,” kata Novak.

Di sisi lain, meningkatkan permintaan minyak, prospek penurunan suku bunga jangka pendek oleh Federal Reserve yang bertujuan untuk memperkuat ekonomi AS telah melemahkan dolar.

Minyak biasanya dihargai dalam dolar, dan penurunan nilai greenback yang lebih lemah membuatnya lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Sementara itu, Baker Hughes mengatakan pada pekan lalu, perusahaan-perusahaan energi AS menambah rig minyak minggu lalu, kenaikan pertama dalam tiga minggu, sehingga jumlah totalnya menjadi 789 unit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, harga minyak dunia

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top