Ketegangan di Timteng Angkat Harga Minyak Sesaat

Ketegangan di Timur Tengah cuma memberikan daya kejut sementara bagi harga minyak, yang sudah dihajar oleh sentimen perang dagang Amerika Serikat dan China.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 15 Juni 2019  |  00:05 WIB
Ketegangan di Timteng Angkat Harga Minyak Sesaat
Bendera Iran berkibar di lapangan minyak Soroush di Teluk Persia, Iran, Senin (25/7/2005), - Reuters/Raheb Homavandi

Bisnis.com, JAKARTA – Insiden serangan terhadap dua kapal tanker di Teluk Oman, Kamis (13/6/2019), hanya mampu menguatkan harga minyak sesaat, setelah itu harga komoditas tersebut kembali memerah.

Tercatat, hingga pukul 16:32 WIB, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menyusut 0,44 persen atau 0,23 poin menjadi US$52,05 per barel, sedangkan harga minyak Brent melemah 0,23 persen atau 0,14 poin ke level US$61,17 per barel.

Padahal pada perdagangan Kamis (12/6/2019), kedua harga acuan tersebut berada di zona hijau. Harga minyak WTI, misalnya, berakhir menguat 2,23 persen atau 1,14 poin di level US$52,28 per barel. Adapun harga minyak mentah Brent menghangat 2,23 persen atau 1,34 poin menjadi US$61,31 per barel.

Dilansir dari Bloomberg, Jumat (14/6/2019), ketegangan di Timur Tengah cuma memberikan daya kejut sementara bagi harga minyak, yang sudah dihajar oleh sentimen perang dagang Amerika Serikat dan China. Selain itu juga dihantam oleh stok minyak AS yang membengkak.

Administrasi Informasi Energi (Energy Information Administration) AS, Rabu (13/6), melaporkan, stok minyak mentah Negeri Paman Sam naik secara tak terduga untuk minggu kedua berturut-turut, yaitu 2,2 juta barel pekan lalu. Angka itu berbeda dengan perkiraan analis yang memperkirakan penurunan 481.000 barel.

Dari arena perang dagang, AS dan China masih menemui jalan buntu terkait penyeleseaian persoalan tersebut. Bahkan, Penasihat Ekonomi AS Larry Kudlow memperingatkan, Beijing kemungkinan menghadapi konsekuensi jika Presiden Xi Jinping menolak undangan bertemu Presiden Donald Trump di Jepang pada bulan ini.

Presiden Trump telah berulangkali mengancam akan menaikkan tarif jika tidak bisa bertempu dengan Presiden Xi di KTT G20.

Meskipun demikian, tak ada tenggat waktu bagi Beijing untuk kembali ke meja perundingan yang terhenti bulan lalu, usai Washington menuduh China meningkari ketentuan-ketentuan perjanjian perdagangan sementara.

Kim Kwangrae, analis komoditas di Samsung Futures Inc., mengatakan, perang di Timur Tengah akan sangat mengganggu aliran energi. Akan tetapi, wilayah tersebut kurang penting untuk pasar minyak mentah global saat ini, karena pasar minyak kini dikuasai minyak serpih AS.

“Kekhawatiran justru didorong oleh percikan perdagangan AS dan China, juga meningkatnya persediaan minyak mentah AS, sehingga menghambat harga minyak untuk pulih,” katanya dikutip dari Bloomberg.

Dia menambahkan, tidak terlihat harga minyak terjun lebih dalam, karena pada saat yang sama juga diimbangi oleh meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah. “Setidaknya [konflik di timteng] menjaga harga minyak mentah berjangka [untuk menguat],” katanya.

Situasi di Timur Tengah kembali memanas, setelah terjadi serangan terhadpa dua kapal tanker minyak di Teluk Oman, Kamis (14/6/2019). Namun tidak jelas apa yang menimpa kapal Frot Altair milik Norwegia atau kapal Kokuka Courageous milik Jepang itu.

Dilansir dari Reuters, kedua kapal tersebut dilaporkan mengalami ledakan, sehingga memaksa para kru untuk meninggalkan kapal. Kedua kapal pun terapung-apung di perairan antara negara-negara Teluk Arab dan Iran.

Satu sumber mengatakan, ledakan di Front Altair, yang terbakar kemungkinan disebabkan oleh tambang magnet. Perusahaan yang mencarter tanker Kokuka Courageous mengatakan, kapal tersebut diduga ditabrak oleh torpedo. Namun, orang-orang yang mengetahui masalah ini mengatakan, bukan torpedo penyebabnya.

Sementara itu, Gedung Putih menyalahkan Iran atas serangan di dekat Selat Hormuz tersebut, titik terpadat lalu lintas pengiriman minyak dunia. Sedangkan Teheran, menolak tuduhan rival abadi mereka itu.

Pejabat AS merilis gambar yang menurut mereka ada keterlibatan Iran dalam serangan kapal tanker, Kamis (13/6/2019). Kapten Angkatan Laut Bill Urban dari Komando Pusat AS mengatakan, pihaknya telah mengamati dan merekam sebuah kapal patroli Garda Revolusi Iran mengeluarkan sebuah tambang limpet (ranjau tempel)  yang tidak meledak di kapal Kokuka Courageous.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top