Ikuti Minyak, Harga Karet Bangkit dari Pelemahan

Harga karet di bursa Tokyo berhasil bangkit dari pelemahannya dan ditutup di zona hijau pada perdagangan hari ini, Jumat (24/5/2019), sejalan dengan rebound harga minyak mentah.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Mei 2019  |  16:20 WIB
Ikuti Minyak, Harga Karet Bangkit dari Pelemahan
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet di bursa Tokyo berhasil bangkit dari pelemahannya dan ditutup di zona hijau pada perdagangan hari ini, Jumat (24/5/2019), sejalan dengan rebound harga minyak mentah.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Oktober 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) berakhir menguat 0,52 persen atau 1 poin di level 191,80 yen per kg dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (23/5/2019), harga karet kontrak Oktober ditutup turun 0,70 poin atau 0,37 persen di level 190,80 yen per kg.

Sementara itu, harga minyak mentah acuan global Brent untuk kontrak Juli 2019 terpantau menguat 1,17 persen atau 0,79 poin ke level US$68,55 per barel pukul 15.19 WIB.

Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2019 menanjak 1,24 persen atau 0,72 poin ke level US$58,63 per barel.

Baik minyak WTI dan Brent rebound setelah berakhir terjerembab 5,71 persen dan 4,55 persen masing-masing pada Kamis (23/5).

Meski mampu rebound, minyak menuju penurunan mingguan terbesar sejak Desember 2018 di tengah suramnya prospek perdagangan dunia dan membengkaknya jumlah stok minyak mentah di AS yang membangkitkan kembali kekhawatiran akan kelebihan suplai global.

Berbanding terbalik dengan karet di Tokyo, harga karet untuk kontrak teraktif September 2019 Shanghai Futures Exchange melanjutkan pelemahannya dan berakhir turun 35 poin atau 0,30 persen di level 11.765 yuan per ton pada perdagangan Jumat (24/5).

Dilansir Bloomberg, harga karet di Shanghai membukukan penurunan mingguan pertamanya sejak April karena tertekan ekspektasi dampak hujan deras terhadap produksi dan memburuknya tensi perdagangan AS-China.

Menurut Pusat Meteorologi Nasional China, hujan berkategori sedang hingga berat akan mengaliri perkebunan-perkebunan di provinsi Yunnan, wilayah penghasil karet terbesar di China.

“Hujan lebat diperkirakan akan terjadi di beberapa daerah penanaman karet di China dan Thailand. Hal ini memberi tekanan pada harga,” ujar Gu Jiong, seorang analis di Yutaka Shoji.

“Selain itu, turunnya harga minyak mentah juga menjadi sentimen bearish untuk karet,” tambah Gu Jiong, seperti dikutip Bloomberg.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Oktober 2019 di Tocom

Tanggal                              

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan (persen)

24/5/2019

191,80

+0,52

23/5/2019

190,80

-0,37

22/5/2019

191,50

-1,44

21/5/2019

194,30

+1,99

20/5/2019

190,50

-1,19

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, harga karet

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top