China Hujan Deras, Harga Karet Tambah Kendur

Harga karet di bursa Tokyo dan Shanghai memperpanjang pelemahannya pada perdagangan hari ini, Kamis (23/5/2019), akibat tertekan perkiraan hujan lebat yang akan mengakhiri gangguan produksi di China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  16:00 WIB
China Hujan Deras, Harga Karet Tambah Kendur
Petani mengumpulkan getah karet hasil panen di perkebunan Bathin II Babeko, Bungo, Jambi, Sabtu (30/3/2019). Harga jual getah karet di tingkat petani setempat berangsur naik dari Rp8.000 per kilogram pada minggu lalu menjadi Rp8.200 per kilogram per hari ini. ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet di bursa Tokyo dan Shanghai memperpanjang pelemahannya pada perdagangan hari ini, Kamis (23/5/2019), akibat tertekan perkiraan hujan lebat yang akan mengakhiri gangguan produksi di China.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Oktober 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) berakhir melemah 0,37 persen atau 0,70 poin di level 190,80 yen per kg dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (22/5/2019), harga karet kontrak Oktober ditutup melorot 2,80 poin atau 1,44 persen di level 191,50 yen per kg.

Di Shanghai Futures Exchange, harga karet untuk kontrak teraktif September 2019 bahkan anjlok 300 poin atau 2,48 persen dan ditutup di level 11.800 yuan per ton setelah berakhir di posisi 12.100 pada perdagangan Rabu (22/5).

Dilansir Bloomberg, harga karet di Shanghai membukukan penurunan dua hari terbesarnya sejak Juni akibat tertekan ekspektasi bahwa hujan deras akan meredakan dampak kemarau di provinsi Yunnan, wilayah penghasil karet terbesar di China.

“Hujan lebat diperkirakan akan terjadi di beberapa daerah penanaman karet di China dan Thailand. Hal ini memberi tekanan pada harga,” ujar Gu Jiong, seorang analis di Yutaka Shoji.

Menurut Pusat Meteorologi Nasional China, hujan berkategori sedang hingga berat diprediksi akan mengaliri perkebunan-perkebunan di provinsi tersebut, yang selama ini mengalami gelombang panas dan kekeringan.

“Proyeksi curahan hujan deras untuk daerah-daerah di China Selatan, termasuk provinsi Guizhou, Yunnan, dan Guangdong pada Kamis dan Jumat,” terang Pusat Meteorologi Nasional China.

Sebelumnya, harga karet mampu menguat didorong gangguan pasokan yang berkelanjutan di China akibat cuaca panas di sejumlah wilayah produksi. Jiangcheng Rubber Co. perkebunan terbesar di China, sampai menghentikan aktivitas penyadapannya akibat kemarau.

“Selain itu, turunnya harga minyak mentah juga menjadi sentimen bearish untuk karet,” tambah Gu Jiong.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2019 terpantau lanjut melemah 0,62 persen atau 0,38 poin ke level US$61,04 per barel pukul 14.57 WIB. Adapun harga minyak Brent kontrak Juli 2019 melemah 0,48 poin atau 0,68 persen ke posisi 70,51.

Harga minyak melemah setelah jumlah persediaan minyak mentah Amerika Serikat dilaporkan meningkat melampaui ekspektasi. Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS tumbuh 4,7 juta barel pada pekan yang berakhir  17 Mei.

Seperti diketahui, karet sintetis yang menjadi bahan subtitusi utama karet alam dibuat dari polimer turunan minyak, sehingga pergerakan harganya jelas dipengaruhi harga minyak yang menjadi bahan baku asalnya.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Oktober 2019 di Tocom

Tanggal                              

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan (persen)

23/5/2019

190,80

-0,37

22/5/2019

191,50

-1,44

21/5/2019

194,30

+1,99

20/5/2019

190,50

-1,19

17/5/2019

192,80

-0,16

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet, ekonomi china

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top