Rekomendasi Saham : Garuda Indonesia (GIAA) Mampu Terbang ke Rp750?

Emiten maskapai penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. telah mampu mencetak kinerja positif pada kuartal I/2019 di tengah musim sepi pengguna layanan penerbangan.
Rekomendasi Saham : Garuda Indonesia (GIAA) Mampu Terbang ke Rp750? Muhammad Ridwan | 24 Mei 2019 06:06 WIB
Rekomendasi Saham : Garuda Indonesia (GIAA) Mampu Terbang ke Rp750?
Jajaran Direksi Garuda Indonesia saat menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Selasa (21/5/2019) - Bisnis/Muhammad Ridwan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten maskapai penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. telah mampu mencetak kinerja positif pada kuartal I/2019 di tengah musim sepi pengguna layanan penerbangan.

Memasuki kuartal II/2019, emiten berkode saham GIAA itu bersiap untuk memasuki musim puncak atau peak season yang dinilai dapat mendongkrak kinerja perseroan. Pada saat yang sama, perseroan harus menghadapi aturan yang dikeluarkan pemerintah terkait penurunan harga tiket sebesar 15%.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam risetnya menyebutkan bahwa peak season akan memberikan dukungan terhadap kinerja perseroan.

Selain itu, penurunan harga tiket tersebut berdampak kepada permintaan yang bergeser ke maskapai full service carier  seperti Garuda Indonesia karena perbedaan harga yang menyempit dengan maskapai berbiaya rendah atau low cost carier (LCC).

Di sisi lain, polemik terkait dengan laporan keuangan yang tidak mendapatkan persetujuan dari dua komisaris perseroan dinilai akan cepat mereda seiring dengan telah ditanganinya kasus tersebut oleh pihak regulator.

“Kami berpendapat bahwa sengketa tersebut kemungkinan akan segera menghilang, karena kami yakin GIAA mematuhi Standar Akuntansi Indonesia PSAK 23. Setelah masalah teratasi, tekanan pada GIAA akan mereda,” jelasnya dalam riset, dikutip Jumat (24/5/2019).

Mirae Asset Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli pada saham GIAA dengan target harga Rp690, mengingat hasil kinerja kuartal I/2019 yang solid. Target harga tersebut menyiratkan P/B target 1,3 kali

“Di tengah ketidakpastian dari Intervensi pemerintah, volatilitas harga bahan bakar, dan standar akuntansi, tetapi kami optimis perseroan memiliki inisiatif yang berkelanjutan untuk meningkatkan kinerja keuangan dan operasional GIAA,” pungkasnya.

Sementara itu, analis Trimegah Sekuritas Indonesia Fedro Christian dalam risetnya menyebutkan bahwa GIAA mencatatkan momen bersejarah karena membukukan angka pendapatan tertinggi di kuartal I sejak IPO.

Laba bersih GIAA pada kuartal I/2019 mencapai US$20 juta, lebih tinggi dibandingkan rugi bersih yang dicatatkan perseroan senilai US$64 juta pada kuartal I/2018.

Lebih jauh, dalam laporan keuangan kuartal I/2019, kontribusi pemasukan GIAA lebih didorong secara fundamental daripada keuntungan sekali saja seperti yang ada dalam kuartal IV/2018 yaitu dari biaya ekslusif pemasangan Wi-Fi dari Mahata.

Laba inti pada kuartal I/2019 mencapai US$61 juta. Menurutnya, laba inti pada periode tersebut merupakan yang tertinggi.

“Jika kita proyeksikan peak season selama Lebaran, liburan akhir tahun dan pendapatan dari layanan haji di pada semester II, itu membuat kemungkinan peningkatan pendapatan ke depannya,” jelasnya.

Adapun Trimegah Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli untuk saham GIAA dengan target harga Rp750.

Pada perdagangan kemarin, Kamis (23/5/2019) saham GIAA ditutup melemah 0,49% ke level Rp410.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garuda indonesia, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top