Harga Tembaga Tersengat Sentimen Perang Dagang AS Vs China

Prospek pergerakan harga tembaga bergantung besar terhadap perkembangan perang dagang antara AS dan China yang belum lama ini kembali memanas.
Finna U. Ulfah | 21 Mei 2019 15:49 WIB
Ilustrasi kawat tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA — Prospek pergerakan harga tembaga bergantung besar terhadap perkembangan perang dagang antara AS dan China yang belum lama ini kembali memanas.

Mengutip Bloomberg, sentimen eskalasi perang dagang antara AS dan China masih mendominasi pasar tembaga sehingga komoditas logam merah tersebut sangat menaruh harapan pada hasil negosiasi perdagangan kedua negara. Hal tersebut tecermin dari sedikitnya reaksi perubahan harga tembaga bahkan ketika pemerintahan Zambia berencana untuk mengambil alih aset tambang tembaga perusahaan Vedanta Resources Ltd.

Direktur Pelaksana Penelitian Komoditas BMO Capital Markets Colin Hamilton mengatakan bahwa menasionalisasi aset tambang dapat meningkatkan risiko kemungkinan terjadinya gangguan di pasar tembaga yang saat ini telah mengetat.

"Ini kemungkinan mendorong pelaku pasar untuk merevisi posisinya terhadap pasokan yang menurun, tetapi saat ini fokus pasar lebih mengarah kepada sisi permintaan jika perang dagang AS dan China tidak kunjung usai," ujar Colin seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (21/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (20/5/2019), harga tembaga di bursa London ditutup melemah 0,45% di level US$6.029 per ton. Secara year to date, tembaga telah bergerak naik 1,07%.

Sementara itu, harga tembaga di bursa Shanghai pada perdagangan Selasa (21/5/2019) bergerak melemah tipis 0,06% di level 47.710 yuan per ton. Pada pertengahan perdagangan kemarin, tembaga sempat menguat ketika AS melonggarkan beberapa pembatasan perdagangan bagi perusahaan raksasa telekomunikasi asal China, Huawei, untuk sementara.

Adapun, pada pekan lalu AS menambahkan Huawei Technologies Co. Ltd ke dan 68 entitas lainnya ke dalam daftar hitam ekspor sehingga membuat hampir mustahil bagi perusahaan China untuk membeli barang buatan AS. Keputusan pemberian sanksi tersebut pun seketika meningkatkan ketegangan perdagangan AS dan China sehingga membebani harga logam.

Direktur Kingdom Futures Malcolm Freeman mengatakan bahwa semua logam telah berhasil naik dari posisi terendahnya pada perdagangan saat ini.

"Logam terus ditarik dari sistem gudang LME dan pada titik tertentu tekanan bisa memicu perputaran besar bagi tembaga dan sebagian besar logam lainnya," ujar Malcolm seperti dikutip dari Reuters.

Selain itu, harga tembaga juga mendapat dukungan harga juga dikarenakan pembatasan impor skrap tembaga kategori 6 yang akan memperburuk pasokan bahan baku di tengah penurunan output konsentrat tembaga dari Chili.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas tembaga, perang dagang AS vs China

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top