Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gangguan Cuaca di China Bikin Harga Karet Melesat

Harga karet dunia menguat tajam, pada perdagangan Selasa (21/5/2019), menyusul kecemasan pasar terhadap gangguan produksi di China, salah satu produsen terbesar di dunia.
Warga menyadap getah karet di Desa Balai Rajo, VII Koto Ilir, Tebo, Jambi, Selasa (23/4/2019). Harga jual getah di pasar lelang karet desa setempat naik dari Rp.8.500 per kilogram pada bulan lalu menjadi Rp.9.600 dalam beberapa hari terakhir. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
Warga menyadap getah karet di Desa Balai Rajo, VII Koto Ilir, Tebo, Jambi, Selasa (23/4/2019). Harga jual getah di pasar lelang karet desa setempat naik dari Rp.8.500 per kilogram pada bulan lalu menjadi Rp.9.600 dalam beberapa hari terakhir. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet dunia menguat tajam, pada perdagangan Selasa (21/5/2019), menyusul kecemasan pasar terhadap gangguan produksi di China, salah satu produsen terbesar di dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 13:.15 WIB, harga karet kontrak pengiriman Oktober 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) telah menguat 1,99% atau 3,80 poin ke level 194,30 yen per ton.

Mengutip Bloomberg, harga karet menguat karena perhatian para trader tertuju pada gangguan suplai dari China akibat cuaca panas. Sentimen tersebut pun mengabaikan laporan produksi otomotif China jatuh pada April tahun ini. Produksi kendaraan di China dilaporkan tergelincir 14,4% pada April tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, persediaan karet di Shanghai dikabarkan meningkat tipis 0,4% menjadi 431.384 ton secara mingguan, pada pekan lalu. Kenaikan harga minyak mentah dan pasar saham China juga menjadi sentimen positif bagi harga karet. Saham China menjadi yang terkuat di Asia pada Selasa (21/5/2019) kendati ada peringatan bahwa China dapat membalas langkah Presiden AS Donald Trump memasukkan Huawei Technologies ke dalam daftar hitam.

Terkait dengan gangguan cuaca, gelombang panas yang melanda provinsi Yuan, pemasok setengah produksi karet  alam China, telah menciptakan kondisi kerja berbahaya dan meningkatkan risiko hama. Hal tersebut mendorong Jiangcheng Rubber untuk berhenti menyadap karet.

Badan meteorologi setempat memperingatkan bahwa suhu akan tetap berada pada level 40 derajat celsius di beberapa bagian Yunan.

Jia Zheng, manajer portofolio di Shanghai Minghong Investmen Co. mengatakan bahwa harga karet dalam kondisi bullish di Shanghai di tengah banyak spekulasi, produksi di Yunan akan berkurang secara besar-besaran karena cuaca panas.

Menurut Jia, gangguan itu merupakan masalah besar bagi masa depan bagi Shanghai, karena karet yang diproduksi di dalam negeri biasa digunakan untuk penyelesaian kontrak fisik.

China merupakan produsen karet alam yang signifikan, dengan produksi sekitar 800.000 ton pada 2016. Pada saat yang sama, mereka juga konsumen karet terbesar di dunia. International Rubber Study Group menyatakan, dunia memproduksi sekitar 14 juta ton karet alam tiap tahunnya.

Sentimen positif juga datang dari Thailand. Negeri Gajah Putih itu dilaporkan akan memangkas ekspor karet mereka sebesar 126.240 ton pada pekan depan untuk 4 bulan, setelah penundaan dalam mengimplementasikan perjanjian pemangkasan pasokan dengan produsen regional lainnya.

Thailand semestinya telah memotong ekspor karet alam pada 1 April lalu, bersama dengan Indonesia dan Malaysia. Tanggal itu merupakan kesepakatan oleh Dewan Karet Tripartit Internasional (ITRC) yang terdiri atas tiga negara tersebut, pada Maret lalu.

Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 70% dari produksi karet alam dunia. Mereka memutuskan untuk pengurangan ekspor 240.000 metrik ton secara kolektif untuk mendukung penguatan harga karet.

Gubernur Otoritas Karet Thailand Yium Tavarolit mengatakan, Thailand, pengekspor karet utama dunia, menunda langkah itu karena berbarengan dengan pemilihan umum pada Maret lalu. Pihaknya berjanji akan memangkas ekspor karet antara 20 Mei dan 19 September. “Thailand akan berjalan sesuai kesepakatan tiga negara, dan akan menilai hasilnya tiap bulan,” katanya kepada Reuters pekan lalu.

Dia menambahkan, jika harga karet belum bergerak, maka pihaknya harus meninjau ulang ukuran pemangkasan tersebut.

Sebelumnya, kesepakatan serupa juga pernah diterapkan oleh ITRC pada akhir 2017 dengan memotong ekspor karet alam sebesar 350.000 ton selama tiga bulan.

Selain mengekang ekspor, kelompok ini juga sepakat untuk mencoba secara signifikan meningkatkan penggunaan karet domestik di masing-masing dari tiga produsen melalui pengembangan seperti aspal karet.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dika Irawan
Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper