Harga Minyak Turun Tipis Dipicu Laporan Stok Minyak AS

Pada perdagangan Rabu (15/5/2019), dua harga minyak acunan dunia, West Texas Intermediate dan Brent berada di zona merah. Pelemahan terjadi setelah sebuah laporan menunjukkan kenaikan mengejutkan dalam stok minyak mentah AS. Selain itu, penurunan harga juga dipicu oleh produksi industri China untuk April tumbuh di luar harapan.
Dika Irawan | 15 Mei 2019 14:43 WIB
Harga minyak mentah Indonesia turun. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Pada perdagangan Rabu (15/5/2019), dua harga minyak acunan dunia, West Texas Intermediate dan Brent berada di zona merah.

Hingga pukul 13.43 WIB, harga minyak WTI melemah 0,73% atau 0,45 poin ke level US$61,33 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent melemah 0,27% atau 0,19 poin ke level US$71,05 per barel.

Pelemahan terjadi setelah sebuah laporan menunjukkan kenaikan mengejutkan dalam stok minyak mentah AS. Selain itu, penurunan harga juga dipicu oleh produksi industri China untuk April tumbuh di luar harapan.

American Petroleum Institute melaporkan, persediaan minyak mentah AS di luar perkiraan tumbuh 8,6 juta barel pada pekan lalu hingga 10 Mei menjadi 477,8 juta barel. Di luar ekspektasi para analis yang memperkirakan turun 800.000 barel.

API juga melaporkan, stok minyak mentah di Cushing, Oklahama, pusat pengiriman naik 2,1 juta barel. Namun, Administrasi Informasi Energi (EIA), Departemen Energi AS melaporkan angka resmi pada hari ini, Rabu (15/5/2019) waktu setempat.

Edward Moya, analis pasar senior di Oanda mengatakan bahwa jika laporan EIA mengkonfrimasi hal tersebut, maka harga minyak dunia bisa terbebani. “Namun terlalu banyak risiko geopolitik yang mendukung penguatan harga minyak,” katanya dikutip dari Reuters.

Harga minyak memperoleh dukungan, Selasa (14/5/2019), setelah Arab Saudi mengatakan, drone bersenjata telah menyerang dua stasiun pompa minyaknya. Peristiwa ini terjadi 2 hari setelah sabotase tanker minyak mereka di lepas pantai Uni Emirat Arab.

Sementara itu, militer AS menyatakan siap untuk segala kemungkinan ancaman yang terjadi pada pasukan AS di Irak. Serangan terjadi dengan latar balakang ketegangan AS dan Iran, menyusul keputusan Washington mencoba memangkas ekpor minyak Iran menjadi nol.

Di tempat lain, pertumbuhan output industri China melambat lebih dari yang diharapkan menjadi 5,4% pada April, dibandingkan dengan Maret. Hal ini memperkuat pandangan Beijing harus mengeluarkan lebih banyak langkah-langkah stimulus saat perang dagang dengna AS meningkat.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, opec

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup