Rupiah Masih Loyo di Hadapan Dolar AS, Terlemah Kedua di Asia

Rupiah belum bisa bergerak menjauh dari zona merah seiring dengan minimnya katalis positif yang mampu menguatkan mata uang Garuda.
Finna U. Ulfah | 15 Mei 2019 14:36 WIB
Warga menunjukkan uang rupiah pecahan kecil di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (13/5/2019). - ANTARA/Abriawan Abhe

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah belum bisa bergerak menjauh dari zona merah seiring dengan minimnya katalis positif yang mampu menguatkan mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (15/5/2019) pukul 13.50 WIB, rupiah bergerak melemah 0,111% atau terdepresiasi 16 poin di level Rp14.450 per dolar AS, terlemah kedua di antara mata uang asia.

Adapun, mata uang garuda telah bergerak melemah 1,073% sepanjang satu pekan terakhir. Mengutip riset harian Asia Trade Point Futures, rupiah tampaknya belum menemukan momentum yang tepat untuk menguat sehingga kembali terpojok dihadapan dolar AS.

"Meredanya ketegangan dagang AS-China belum dapat meyakini investor untuk mengoleksi rupiah," mengutip riset Asia Trade Point Futures, Rabu (15/5/2019).

Presiden AS Donald Trump mengatakan akan bertemu Presiden China Xi Jinping pada pertemuan KTT G20 Juni mendatang dan sempat menjadi katalis positif bagi pasar Asia. Namun, sentimen tersebut tidak mampu mengangkat rupiah.

Apalagi, dari sentimen dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia berbalik negatif dengan defisit mencapai US$2,5 miliar, terbesar sejak Juli 2013.

Defisit tersebut menimbulkan kekhawatiran pasar bahwa transaksi berjalan Indonesia yang menjadi fondasi pergerakan rupiah akan semakin melebar, sehingga rupiah menjadi kehilangan pijakan untuk menguat.

Padahal, analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan bahwa rupiah memiliki ruang penguatan karena telah diperdagangkan terlalu murah dalam beberapa pekan terakhir.

"Jika dilihat dari teknikalnya saja rupiah sudah overboard dan terlihat ada potensi rebound akibat kecenderungan aksi ambil untung oleh pelaku pasar," ujar Deddy kepada Bisnis.com

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup