Ringkasan Perdagangan 14 Mei: IHSG ke Level Terendah Sejak November, Rupiah Lanjutkan Pelemahan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup melemah ke level terendah sejak akhir November pada perdagangan hari ini, Selasa (14/5/2019), sejalan dengan pelemahan rupiah.
Aprianto Cahyo Nugroho | 15 Mei 2019 06:23 WIB
Pengunjung beraktivitas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (13/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup melemah ke level terendah sejak akhir November pada perdagangan hari ini, Selasa (14/5/2019), sejalan dengan pelemahan rupiah.

Pasar saham di regional juga masih tertekan oleh kekhawatiran meningkatnya eskalasi dalam perselisihan perdagangan dua ekonomi terkuat di dunia tersebut.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com hari ini:

IHSG Ditutup Melemah ke Level Terendah Sejak 30 November, Ini Pemicunya

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 1,05 persen atau 64,19 poin ke level 6.071,20, setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,88 persen atau 53,99 poin ke level 6.081,40.\

IHSG menyentuh level terendahnya sejak 30 November 2018 dan telah melemah hingga 1,99 persen sepanjang tahun ini.

Delapan dari sembilan sektor berakhir di wilayah negatif, didorong oleh sektor industri dasar yang melemah 1,74 persen dan disusul sektor finansial yang melemah 1,38 persen.

Di sisi lain, sektor perdagangan menguat 0,24 persen dan menahan laju pelemahan IHSG lebih lanjut hari ini.

Dari 632 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 141 saham menguat, 249 saham melemah, dan 242 saham stagnan.

Kembali Tersungkur, Rupiah Tetap Memiliki Momentum untuk Rebound

Rupiah kembali tersungkur di hadapan dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (14/5/2019) seiring dengan eskalasi perang dagang AS dan China. Namun, analis menilai sesungguhnya rupiah memiliki momentum untuk berbalik menguat.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup terdepresiasi tipis 0,076% atau 11 poin menjadi Rp14.434 per dolar AS.

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan bahwa rupiah memiliki ruang penguatan karena telah diperdagangkan terlalu murah, sedangkan secara fundamental, pondasi rupiah masih terlihat cukup terkendali.

"Jika dilihat dari teknikalnya saja rupiah sudah overboard dan terlihat ada potensi rebound akibat kecenderungan aksi ambil untung oleh pelaku pasar," ujar Deddy kepada Bisnis.com, Selasa (14/5/2019).

Bursa Asia Terpuruk, Investor Cemaskan Perang Dagang AS-China

Ketegangan terbaru dalam perang tarif AS-China menekan bursa saham Asia pada perdagangan Selasa (14/5/2019), namun komentar dari Presiden AS Donald Trump bahwa ia berharap negosiasi akan berhasil meredakan sejumlah kekhawatiran.

Mayoritas bursa saham lainnya di Asia tertekan, di antaranya indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing turun 0,69 persen dan 0,64 persen, sedangkan indeks Hang Seng melemah 1,5 persen.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang merosot masing-masing 0,59 persen dan 0,40 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,14 persen.

Senin (13/5) malam, Trump mengatakan pembicaraan perdagangan dengan China "akan sangat sukses". Pernytaaan tersebut membantu mengangkat bursa saham berjangka AS yang telah melemah, meskipun sentimen tetap rapuh.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang turun 1,1 persen pada Selasa sore. Indeks sebelumnya telah jatuh sebanyak 1,25 persen ke level terendah sejak 30 Januari.

IHSG Melemah, Investor Asing Lepas Saham Nyaris Rp1 Triliun

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan aksi jual bersih atau net sell senilai sekitar Rp998,91 miliar pada perdagangan hari ini.

Investor asing membukukan aksi beli sekitar 959,95 juta lembar saham senilai Rp3,04 triliun. Adapun aksi jual oleh investor asing tercatat 1,31 miliar lembar saham senilai sekitar Rp4,04 triliun.

Total nilai transaksi yang terjadi di lantai bursa hari ini mencapai sekitar Rp8,78 triliun dengan volume perdagangan tercatat sekitar 12,88 miliar lembar saham.

Harga Karet Melemah, Investor Khawatirkan Perang Dagang

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Oktober 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup melemah 0,75 persen atau 1,4 poin ke level 185,90 yen per kilogram (kg).

Padahal, harga karet sempat dibuka di zona hijau dengan penguatan 0,43 persen atau 0,8 poin ke level 188,10 yen per kg. Adapun pada perdagangan Senin (13/5), harga karet berakhir di level 186,30 yen per kg setelah menguat 0,32 persen.

Sementara itu, harga karet di Shanghai Futures Exchange untuk kontrak teraktif September 2019 juga ditutup berbalik melemah 0,72 persen atau 85 poin ke level 11.725 yuan per ton, meskipun sempat dibuka menguat ke level 11.910 yuan per ton.

Harga Emas Bergerak Melemah

Harga emas Comex untuk kontrak Juni 2019 melemah 2,3 poin atau 0,18 persen ke level US$1.299,50 per troy ounce pada pukul19.54 WIB.

Sementara itu, harga emas Antam dan UBS di PT Pegadaian (Persero) pada hari ini, Selasa (14/5/2019). Emas batangan cetakan PT Untung Bersama Sejahtera (UBS) ukuran 1 gram naik Rp1.000 ke Rp662.000.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, Harga Emas Hari Ini, Indeks BEI

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup