6 BUMN Terbitkan Obligasi Kuartal II/2019

Di tengah tingginya kebutuhan pendanaan, sejumlah Badan Usaha Milik Negara siap menerbitkan obligasi pada kuartal II/2019, setelah pada awal tahun ini sempat lesu karena menanti pelaksanaan pemilihan umum.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 13 Mei 2019  |  12:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah tingginya kebutuhan pendanaan, sejumlah Badan Usaha Milik Negara siap menerbitkan obligasi pada kuartal II/2019, setelah pada awal tahun ini sempat lesu karena menanti pelaksanaan pemilihan umum.

Penerbitan obligasi oleh sejumlah BUMN menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (13/5/2019). Berikut Laporannya.

Sejumlah BUMN yang akan menerbitkan obligasi adalah PT PP (Persero) Tbk., PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Waskita Beton Precast Tbk., dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk.

Menurut PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), penerbitan surat utang oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tercatat senilai Rp12,5 triliun pada kuartal I/2019. Pada periode yang sama tahun lalu, realisasi emisi obligasi oleh perusahaan pelat merah mencapai Rp59,8 triliun.

Agus Purbianto, Direktur Keuangan dan Pengelolaan Kapital Manusia PT PP (Persero) Tbk., mengungkapkan perseroan berencana menerbitkan obligasi senilai Rp1,5 triliun pada kuartal II/2019. “ sebagian untuk refinancing, yang jangka pendek jadi jangka panjang,” ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Sebelumnya, emiten bersandi saham PTPP itu mengantongi dana segar Rp1,5 triliun dari penerbitan obligasi pada Juli 2018. Jumlah tersebut berasal dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) Obligasi Tahap I 2018.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Waskita Beton Pre­cast Tbk. (WSBP) Anton Y. Nugroho mengatakan, perseroan akan melakukan penawaran umum berkelanjutan (PUB) I obligasi senilai Rp500 miliar. Eksekusi penggalangan dana itu akan dilakukan pada Juni 2019.

“Sisanya PUB II. Total PUB Rp2 tri­liun,” ujarnya.

Menurutnya, dana yang dihimpun dari aksi korporasi itu akan digunakan un­tuk memenuhi kebutuhan belanja mo­dal perseroan senilai Rp900 miliar pada 2019.

Induk usaha WSBP, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. turut menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap IV Tahun 2019 senilai Rp1,84 triliun. Surat utang itu terdiri atas Seri A senilai Rp484 miliar berkupon 9,0% dan Seri B sebesar Rp1,36 triliun berkupon 9,75%.

Director of Finance and Strategy Waskita Karya Haris Gunawan menuturkan, penawaran obligasi sudah selesai. Surat utang tersebut sudah sepenuhnya terserap oleh investor senilai Rp1,84 triliun.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Waskita Karya juga memiliki satu obligasi jatuh tempo dengan jumlah pokok Rp2 triliun pada 2019. Jumlah itu berasal dari penerbitan Obligasi Berkelanjutan II Waskita Karya Tahap I Tahun 2016.

KSEI juga mencatat PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. akan menerbitkan obligasi dengan jumlah pokok sebanyak-banyaknya Rp4,9 triliun. Penawaran umum itu akan dilakukan pada 21 Mei 2019—23 Mei 2019.

Surat utang itu terdiri atas Seri A senilai Rp2,83 triliun berkupon 9,00%, dan Seri B senilai Rp654 miliar dengan tingkat kupon 9,10%. Adapun, sisa dari jumlah pokok yang ditawarkan maksimal Rp1,415 triliun akan dijamin secara kesanggupan terbaik atau best effort.

BAYAR UTANG

Manajemen emiten berkode saham SMGR itu mengatakan, dana yang dihimpun dari obligasi akan digunakan untuk melunasi sebagian kredit sindikasi perseroan.

Pinjaman tersebut ditarik perseroan saat mencaplok kepemilikan saham LafargeHolcim di PT Holcim Indonesia Tbk., yang kini berganti nama menjadi PT Solusi Bangun Indonesia Tbk.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk. juga berencana menerbitkan sisa PUB obligasi senilai Rp2 triliun pada pertengahan 2019. Manajemen emiten berkode saham ADHI itu menyebut proses bookbuilding atau penawaran awal masih terus berlangsung.

Selain itu, PT Kimia Farma (Persero) Tbk. juga berencana menerbitkan obligasi sekitar Rp1,5 triliun, bertenor 3 tahun—5 tahun. Emiten berkode saham KAEF itu menunjuk Mandiri Sekuritas dan BNI Sekuritas sebagai penjamin emisi.

Aksi penggalangan dana, menurut manajemen Kimia Farma, hanya tinggal menunggu restu pemegang saham. Apabila persetujuan dikantongi pada akhir Mei 2019, emisi dapat dilakukan Juni 2019.

KAEF meyakini langkah itu merupakan strategi guna menekan beban keuangan perseroan yang naik signifikan pada kuartal I/2019. Jadi, laba perseroan dapat tumbuh positif pada periode berikutnya.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menilai, langkah yang ditempuh sejumlah BUMN sejalan dengan proyek yang berjalan. Kebutuhan dana membuat perseroan harus menempuh strategi emisi obligasi.

Dia menambahkan, saat ini cost of fund masih tinggi. Apalagi, hampir sebulan terakhir yield surat berharga negara (SBN) tertekan. “Kalau tekanan terus berlangsung, potensi kenaikan yield pasar masih terbuka. Faktornya baik dari eksternal maupun internal,” ujarnya.

Namun, dia menilai likuiditas di pasar masih sangat baik. Pasar membutuhkan instrumen baru sejalan dengan masih minimnya penerbitan surat utang korporasi pada kuartal I/2019.

Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Naing­golan menilai, BUMN memang akan meng­hadapi cost of fund yang lebih tinggi karena tingkat yield surat utang negara bertenor 10 tahun kembali naik di level 8,2%. Namun, dari sisi investor, kupon yang ditawarkan akan sangat menarik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, bumn

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top