Suplai AS Tak Terduga Turun, Harga Minyak Memanas

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berhasil mencetak kenaikan terbesar dalam lebih dari dua pekan pada akhir perdagangan Rabu (8/5/2019), menyusul laporan turunnya suplai minyak di AS.
Renat Sofie Andriani | 09 Mei 2019 07:50 WIB
Fasilitas minyak PT Chevron Pacific Indonesia di daerah Minas yang masuk dalam Blok Rokan di Riau, Rabu (1/8/2018). - ANTARA/FB Anggoro

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berhasil mencetak kenaikan terbesar dalam lebih dari dua pekan pada akhir perdagangan Rabu (8/5/2019), menyusul laporan turunnya suplai minyak di AS.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juni 2019 ditutup menguat 1,2 persen atau 72 sen di level US$62,12 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli 2019 berakhir naik 49 sen di level US$70,37 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US$8,15 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Badan energi AS, Energy Information Administration (EIA), melaporkan persediaan minyak mentah domestik menyusut hampir 4 juta barel pekan lalu, berbanding terbalik dengan perkiraan untuk kenaikan.

Sementara itu, impor dari Arab Saudi merosot ke level terendahnya sepanjang masa, karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya terus membatasi output.

Harga minyak pun bangkit dari pelemahan sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (7/5), harga minyak mentah merosot ke level terendahnya dalam lima pekan setelah Presiden Donald Trump meningkatkan ketegangan perdagangan dengan China dengan ancaman tarif baru.

Namun pasokan global juga berada di bawah tekanan, dengan ekspor Rusia tergelincir karena masalah kontaminasi, kemudian Iran dan Venezuela menghadapi sanksi Amerika.

“Ada semacam penghindaran aset berisiko dari pasar dengan cuitan Trump dan dampaknya pada perdagangan,” ujar Nick Holmes, dari Tortoise. “Jadi rasanya bagus melihat gambaran fundamental di sisi minyak mentah.”

Penurunan angka persediaan itu adalah yang pertama di AS dalam tiga pekan, dan terjadi bersamaan dengan penurunan pasokan bensin dan minyak distilasi yang dapat menghasilkan lebih banyak permintaan minyak mentah ke depannya.

Memperkuat dampak pengiriman barel minyal yang lebih sedikit dari Saudi, pengiriman Venezuela turun menjadi nol, di tengah perselisihan politik dalam negeri.

Sementara itu, aktivitas pengilangan kembali tergelincir, karena pengolah minyak menghadapi proyek-proyek maintenance dan kecelakaan yang luar biasa berat.

Meski perdagangan barel yang aktual menunjukkan mengetatnya pasokan, ada tanda-tanda bahwa minyak yang bersih akan segera tiba di pelabuhan utama Rusia di mana ekspor telah mengalami perlambatan.

Sejak ditemukannya klorida organik dalam ekspor Rusia bulan lalu, hanya satu dari 13 kapal tanker yang dimuat di Ust-Luga telah mengeluarkan muatannya.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak Juni 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

8/5/2019

62,12

+0,72 poin

7/5/2019

61,40

-0,85 poin

6/5/2019

62,25

+0,31 poin

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak Juli 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

8/5/2019

70,37

+0,49 poin

7/5/2019

69,88

-1,36 poin

6/5/2019

71,24

+0,39 poin

Sumber: Bloomberg

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup