Harga Minyak Mentah Terguling, Ini Dalangnya

Harga minyak mentah terguling pada perdagangan Selasa (7/5/2019), bersama dengan penurunan di pasar saham global ketika ancaman kenaikan tarif oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan pertaruhan dalam perang perdagangan AS-China.
Renat Sofie Andriani | 08 Mei 2019 07:19 WIB
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah terguling pada perdagangan Selasa (7/5/2019), bersama dengan penurunan di pasar saham global ketika ancaman kenaikan tarif oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan pertaruhan dalam perang perdagangan AS-China.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah acuan global Brent untuk pengiriman Juli 2019 berakhir melorot 1,9 persen di level US$69,88 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, level penutupan terendahnya sejak 4 April.

Adapun harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juni 2019 ditutup melemah 1,4 persen di level US$61,40 per barel di New York Mercantile Exchange.

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan, minyak Brent tergelincir ke bawah level US$70 per barel karena investor meresahkan kemungkinan gangguan pada ekonomi global yang disebabkan konflik dagang AS-China.

Bahkan ketika tim negosiator kedua belah pihak bersiap untuk mengadakan putaran baru perundingan perdagangan di Washington, ancaman Trump untuk menaikkan tarif terhadap barang-barang asal China memicu ancaman aksi balas dari Negeri Tirai Bambu.

Gejolak isu perdagangan ini membawa indeks S&P 500 mengalami penurunan terbesarnya sejak Januari. Sementara itu, bursa saham di Eropa, Korea Selatan, dan Jepang juga melemah.

“Ada kekhawatiran tentang lingkup ekonomi. Jelas, risiko terbesar bagi pasar minyak saat ini adalah faktor Trump ditambah dengan tekanan makro,” ujar Michael Tran, pakar strategi komoditas di RBC Capital Markets LLC., New York.

Meski demikian, harga minyak sedikit berubah setelah American Petroleum Institute (API) yang dikabarkan merilis laporan yang beragam tentang pasokan AS.

Stok minyak mentah Amerika dilaporkan meningkat 2,81 juta barel pekan lalu, tetapi persediaan bensin turun sekitar jumlah yang sama. Ini menjadi tanda bullish untuk permintaan. Laporan ini selanjutnya akan dikonfirmasikan oleh data resmi pemerintah yang dirilis pada Rabu (8/5/2019) waktu setempat.

Rally minyak sendiri telah perlahan menurun sejak akhir April akibat terbebani spekulasi bahwa Arab Saudi dan negara produsen lain akan menutup kesenjangan pasokan.

Para pengebor di Amerika telah meningkatkan produksinya ke rekornya sekaligus mendorong stok nasional ke level tertinggi sejak September 2017. Pengerahan kapal perang oleh pemerintahan Trump ke Timur Tengah pekan ini hanya mampu menahan sebagian penurunan harga.

“Kami tidak terlalu terkejut bahwa harga telah turun sedikit lebih rendah,” ujar Daniel Ghali, pakar strategi komoditas di TD Securities.

“Apa yang mengejutkan adalah bahwa pasar mengesampingkan atau mengabaikan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran setelah AS mengirimkan sinyal yang jelas bahwa mereka tidak akan mentolerir agresi di wilayah tersebut,” lanjutnya.

Tekanan terhadap harga minyak bertambah dengan rencana Arab Saudi untuk mengirimkan kargo tambahan kepada para pembeli di Asia karena sanksi Amerika mengurangi pasokan dari Iran.

Para penyuling di India akan menerima pasokan tambahan sebanyak 200.000 barel per hari dari kerajaan Saudi, menurut sumber terkait. Adapun sejumlah penyuling di Cina, importir minyak mentah utama, dan Jepang juga akan menerima pengiriman tambahan.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup