Jelang Negosiasi Perang Dagang, Rupiah Kembali Ditutup Melemah

Rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Senin (29/4/2019), menjadi pelemahan selama 6 hari berturut-turut.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 April 2019  |  16:42 WIB
Jelang Negosiasi Perang Dagang, Rupiah Kembali Ditutup Melemah
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Senin (29/4/2019), menjadi pelemahan selama 6 hari berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (29/4/2019), rupiah ditutup melemah tipis 0,063%, naik 9 poin menjadi Rp14.208 per dolar AS. Padahal, pada pertengahan perdagangan, rupiah sempat bertahan menguat 16 poin atau 0,11% pada level Rp14.183 per dolar AS.

Mengutip riset harian Asia Trade Point Futures, pergerakan rupiah cenderung berada dalam area konsolidasi dan kembali dibayangi penantian pasar terhadap babak baru perundingan perdagangan AS dan China yang dijadwalkan pada Rabu (1/5/2019) di Beijing.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelaku pasar tentu berharap pertemuan ini semakin dekat membawa AS-China menuju damai dagang, sesuatu yang sudah sangat diidamkan pasar sejak sinyal damai mulai terlihat pada akhir tahun lalu.

"Respons investor terhadap isu ini bisa dua bentuk. Pertama, adalah pelaku pasar berbunga-bunga sehingga berani memborong aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, dan IHSG, rupiah, dan Surat Berharga Negara (SBN) akan kebagian durian runtuh sehingga berpotensi menguat," ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Senin (29/4/2019).

Kedua, lanjut dia, teradapat kemungkinan pasar menjadi wait and see dan tidak terlalu agresif karena kekhawatiran negosiasi kembali tidak menemukan solusi dan hanya sebatas dialog tanpa menekan perjanjian damai dagang.

Selain itu, situasi pasar saat ini tampaknya juga tengah menanti beberapa data ekonomi penggerak pasar. Salah satunya hasil pertemuan The Fed yang akan dilakukan Selasa dan Rabu pekan ini.

Para ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan sikap dovish-nya bahkan saat data ekonomi AS mengilap, seperti PDB kuartal I/2019 yang mencapai 3,2% lebih besar daripada ekspetasi pasar.

Hal tersebut dikarenakan ketidakpastian global, khususnya dari Eropa, masih menghantui pasar. Kemudian, rilis data Ekonomi Tiongkok yang kemungkinan akan menghasilkan data ekonomi yang positif, setelah melihat data PDB Kuartal I/ 2019 di 6,4 %.

Ibrahim memperkirakan rupiah dalam perdagangan Selasa (30/4/2019) akan ditransaksikan menguat terbatas disokong oleh data ekonomi Tiongkok yang bagus. Rupiah kemungkinan bergerak di level support Rp14.145 hingga Rp14.238 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top