Kuartal I/2019, Panca Budi Idaman (PBID) Klaim Penjualan Tumbuh Sekitar 20%

Emiten produsen kantong plastik bermerek, PT Panca Budi Idaman Tbk. mencetak pertumbuhan penjualan lebih dari 20% pada kuartal I/2019, seiring dengan kenaikan penggunaan plastik food grade yang meningkat terutama di pasar tradisional. 
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 25 April 2019  |  09:20 WIB
Kuartal I/2019, Panca Budi Idaman (PBID) Klaim Penjualan Tumbuh Sekitar 20%
Direktur Utama PT Panca Budi Idaman Tbk. Djonny Taslim( tengah) berbincang dengan Direktur Emiyati (dari kiri), Direktur Fu Yin Ung, Wakil Dirut Vicky Taslim, dan Direktur Tan Hendra, sebelum penawaran perdana saham perseroan, di Jakarta, Selasa (31/10). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten produsen kantong plastik bermerek, PT Panca Budi Idaman Tbk. mencetak pertumbuhan penjualan lebih dari 20% pada kuartal I/2019, seiring dengan kenaikan penggunaan plastik food grade yang meningkat terutama di pasar tradisional. 

Sekretaris Perusahaan Panca Budi Idaman Lukman Hakim memperkirakan penjualan pada kuartal I/2019 tumbuh di atas 20% dibandingkan dengan kuartal I/2018. Jika penjualan bersih hingga 31 Maret 2018 sebesar Rp985,95 miliar, maka perseroan memperkirakan penjualan mencapai Rp1,18 triliun hingga 31 Maret 2019. 

Dia mengatakan, kenaikan penjualan pada tiga bulan pertama tahun ini, ditopang penggunaan plastik food grade yang meningkat terutama di pasar tradisional. Sebagai informasi, sekitar 52% dari omset PBID berasal dari pasar tradisional. 

Pada 2018, segmen kantong plastik berkontribusi 58,37% terhadap total penjualan atau sebesar Rp2,54 triliun. Adapun, plastik food grade berkontribusi sekitar 75%-80% terhadap total penjualan di segmen kantong plastik. "Pertumbuhan penjualan kami di atas 20% dibanding Maret 2018. Peningkatan penjualan terutama pasar tradisional," katanya pada Rabu (24/4/2019). 

Perseroan berharap, penjualan pada kuartal II/2019 dapat tumbuh minimal sama dengan kuartal sebelumnya. Apalagi, penjualan pada kuartal tersebut juga didorong dengan peningkatan daya beli masyarakat seiring dengan periode Ramadan dan Lebaran yang jatuh pada Mei-Juni 2019.  "Kami optimistis untuk penjualan [kuartal II/2019] tumbuh seperti kuartal I," imbuhnya. 

Lebih lanjut, Lukman mengatakan bahwa pada 2019 menjadi tahun ekspansi bagi perseroan seiring dengan penambahan kapasitas produksi dari 91.000 ton menjadi 122.000 ton per tahun. Penambahan kapasitas produksi itu berasal dari pengembangan pabrik di Pemalang Jawa Tengah berkapasitas sebesar 27.000 ton per tahun yang bakal beroperasi pada akhir 2019, serta akuisisi pabrik di Johor Malaysia berkapasitas sebesar 4.000 ton per tahun yang bakal beroperasi mulai Juli 2019. 

Saat ini, emiten dengan kode saham PBID itu, mengoperasikan 7 fasilitas produksi di Tangerang, Medan, dan Jawa Tengah dengan total kapasitas produksi sebesar 91.000 ton per tahun. Pada 2018, PBID mencetak penjualan bersih dan laba bersih masing-masing sebesar Rp4,35 triliun dan 294,51 miliar atau tumbuh masing-masing sebesar 24,73% dan 29,25% secara tahunan.

"Di Pemalang sekarang sudah mulai pembangunan, akhir tahun 2019 beroperasi. [Pabrik] Johor tunggu vendor [mesin] dan kemungkinan mesin datang pada Juli 2019," katanya belum lama ini. 

Analis BCA Sekuritas Willy Suwanto mengatakan, penerapan retribusi kantong plastik, larangan penjualan kantong plastik di Bali, dan sejumlah daerah yang mengurangi penjualan kantong plastik diperkirakan tidak mengganggu kinerja perseroan. Sebab, aturan dan larangan tersebut sebagian besar berlaku di pasar modern. 

Adapun, penjualan kantong plastik perseroan untuk segmen ritel hanya berkontribusi 2% dari total penjualan. Begitu pula, penjualan plastik HDPE berkontribusi 15% dari total penjualan.  "Sebagian besar penjualan [PBID] masih berasal dari plastik food grade PE dan PP, yang tidak terpengaruh oleh peraturan di wilayah manapun," katanya dikutip dari riset yang dipublikasikan pada 28 Maret 2019. 

Namun demikian, margin kotor diperkirakan sedikit tertekan pada tahun ini karena perseroan menahan diri untuk menaikkan harga secara agresif. Analis memperkirakan perseroan dapat membukukan pendapatan sebesar Rp5,04 triliun pada 2019 dan Rp5,81 triliun pada 2020. Adapun, laba bersih diproyeksi mencapai sebesar Rp318 miliar pada 2019 dan Rp388 miliar pada 2020. 

Analis mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham PBID dengan target harga Rp1.600, yang mencerminkan proyeksi price to earning (PE) 2019 sebesar 9,4 kali. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, Panca Budi Idaman

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top