Setelah Menguat Akibat Sentimen Sanksi Iran, Harga Minyak Mulai Melesu

Harga minyak jatuh pada perdagangan Rabu (24/4/2019), di tengah sinyal memadainya pasokan minyak global. Walaupun, lonjakan harga terjadi pada pekan ini karena dorongan sanksi AS yang lebih ketat kepada Iran.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 24 April 2019  |  14:35 WIB
Setelah Menguat Akibat Sentimen Sanksi Iran, Harga Minyak Mulai Melesu
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak jatuh pada perdagangan Rabu (24/4/2019), di tengah sinyal memadainya pasokan minyak global. Walaupun, sebuah lonjakan harga terjadi pada pekan ini karena dorongan sanksi AS yang lebih ketat kepada Iran.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 14.04 WIB, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate turun 0,74% atau 0,31 poin ke level US$65,99 per barel, sedangkan harga minyak Brent melemah 0,39% atau 0,29 poin ke level US$74,22 per barel.

Harga minyak mentah sempat naik ke level tertinggi 2019 pada awal pekan ini, usai AS menyatakan, Senin (22/4/2019) akan mengakhiri semua keringanan sanksi Iran. Dalam hal ini, AS menuntut negara-negara menghentikan pembelian minyak dari Teheran pada Mei mendatang. Jika tidak, Paman Sam sudah menyiapkan sanksi.

Sejumlah analis mengatakan, pasar minyak global tetap mendapatkan pasokan yang cukup untuk saat ini. Hal ini berkat kapasitas cadangan yang cukup dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC), Rusia, dan Amerika Serikat.

Matt Stanley, seorang broker dengan Starfuels Dubai mengatakan, ketika ekspor Iran turun ke level nol seperti harapan AS, maka produsen-produsen minyak lainnya bisa melangkah untuk mengisi kekosongan tersebut.

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), pengawas untuk negara-negara konsumen minyak, dalam pernyataannya, Selasa (23/4), menyebut, pasar minyak mendapatkan pasokan yang cukup dan kapasitas produksi cadangan global tetap pada tingkat yang nyaman.

Sumber terbesar pasokan minyak baru berasal dari Amerika Serikat, yang produksi minyaknya telah meningkat lebih dari 2 juta barel per hari sejak awal tahun lalu, ke rekor lebih dari 12 juta barel per hari pada awal tahun ini. Hal itu menjadikan AS sebagai produsen utama minyak dunia, melewati Rusia dan Arab Saudi.

“Total suplai minyak dari AS diperkirakan tumbuh menjadi 1,6 juta barel per hari pada tahun ini,” demikian pernyataan IEA.

Dalam situasi ini, mantan anggota OPEC dan eksportir minyak, Indonesia dikabarkan telah memesan kargo minyak pertamanya dari AS.


 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, opec

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top