Mata Uang Emerging Asia Tertekan di Zona Merah

Seluruh mata uang asia jatuh seiring dengan kembalinya perdagangan setelah hari libur Paskah dan kenaikan harga minyak mentah mengurangi prospek pertumbuhan negara pengimpor minyak.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 22 April 2019  |  20:06 WIB
Mata Uang Emerging Asia Tertekan di Zona Merah
Mata uang Asia - Istimewa
Bisnis.com, JAKARTA - Seluruh mata uang asia jatuh seiring dengan kembalinya perdagangan setelah hari libur Paskah dan kenaikan harga minyak mentah mengurangi prospek pertumbuhan negara pengimpor minyak.
 
Kepala Penelitian Asia di Australia and New Zealand Banking Group Khoon Goh mengatakan bahwa mengingat likuiditas saat hari libur Paskah menipis, pasar Asia akan cenderung terlihat lebih tenang.
 
"Penggerak mata uang terbesar berasal dari harga minyak dan dapat menyuntikkan sebagian volatilitas bagi harga aset Asia dalam waktu dekat jika menguat lebih lanjut sehingga defisit transaksi berjalan mungkin akan kembali ke posisi eksternal mereka," ujar Khoon Goh seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (22/4/2019).
 
Pada perdagangan Senin (22/4/2019) pukul 18.34 WIB, harga minyak mentah jenis WTI di bursa Nymex naik 2,02% menjadi US$65,29 per barel menyusul kabar Amerika Serikat kemungkinan akan meminta semua importir minyak Iran untuk mengakhiri pembelian mereka atau akan dikenakan sanksi oleh negara paman sam tersebut.
 
Harga minyak jenis Brent di bursa Ice juga bergerak naik 2,38% menjadi US$73,68 per barel.
 
Jika harga minyak bergerak naik, maka biaya impor komoditas ini untuk negara importir minyak di Asia akan semakin mahal.
 
Akibatnya, beban neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account) negara akan semakin dalam sehingga mata uang kekurangan modal untuk bergerak menguat.
 
Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (22/4/2019) pukul 17.53 WIB, mayoritas mata uang kelompok Asia bergerak melemah melawan dolar AS, terpukul di zona merah.
Hanya ringgit yang mampu bergerak di zona hijau dengan menguat tipis 0,044%.
 
Pelemahan tertajam dipimpin oleh peso yang melemah 0,55%, kemudian disusul oleh won melemah 0,413%.
 
Rupee berada di posisi ketiga pelemahan tertajam di kelompok mata uang Asia dengan bergerak turun 0,37% dan diikuti rupiah yang terdepresiasi 0,23%.
 
Pelemahan mata uang kelompok asia juga dikarenakan indeks dolar AS yang berhasil menguat seiring dengan positifnya data penjualan retail AS sebesar 0,8% mom atau di atas ekspektasi pasar di 0,4%.
 
Sementara data Core retail Sales secara mom dirilis di 0,6% atau diatas prediksi pasar di 0,2%.
 
Data-data di atas membuat USD hari ini masih menguat terhadap beberapa mata uang lainnya ditengah terbatasnya data ekonomi pada perdagangan hari ini.
 
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan 6 mata uang mayor lainnya bergerak melemah tipis 0,04% di level 97,343.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nilai tukar, mata uang asia

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top