Adaro Energy (ADRO) Pacu Bisnis Air dan Listrik

PT Adaro Energy Tbk. tengah memacu sejumlah lini bisnis perseroan, termasuk di sektor ketenagalistrikan dan air bersih, sebagai upaya perseroan untuk menjaga pertumbuhan kinerja keuangan ke depan.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 16 April 2019  |  09:21 WIB
Adaro Energy (ADRO) Pacu Bisnis Air dan Listrik
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir menyampaikan sambutan saat Perayaan 10 Tahun Initial Public Offering (IPO) sekaligus satu dekade transformasi bisnis perusahaan PT Adaro Tbk di Jakarta, Senin (16/7). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — PT Adaro Energy Tbk. tengah memacu sejumlah lini bisnis perseroan, termasuk di sektor ketenagalistrikan dan air bersih, sebagai upaya perseroan untuk menjaga pertumbuhan kinerja keuangan ke depan.

Adaro Energy saat ini memiliki empat pilar bisnis utama yakni Adaro Mining, Adaro Services, Adaro Logistics, dan Adaro Power. Emiten berkode saham ADRO mengandalkan Adaro Power untuk mengembangkan bisnis ketenagalistrikan.

Jejak langkah pertama Grup Adaro masuk sektor ketenagalistrikan ditandai oleh pembangkit listrik mulut tambang 2x30 megawatts (MW) di Tanjung, Kalimantan Selatan. Proyek tersebut dibangun, dimiliki, dan dioperasikan oleh PT Makmur Sejahtera Wisesa (MSW).

Dalam laporan tahunan 2018, ADRO menuliskan bahwa PLTU itu dirancang untuk menggerakkan operasi Grup Adaro di wilayah Tanjung. Kelebihan daya didistribusikan ke jaringan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) di Kalimantan Selatan dan Tengah.

Head of Corporate Communication Division Adaro Energy Febriati Nadira menjelaskan bahwa MSW merupakan kontributor penting terhadap pendapatan Adaro Power. Pada 2018, MSW mengkonsumsi sekitar 0,35 Mt batu bara E4000 dari tambang Wara.

Selain MSW, Febriati mengungkapkan pembangunan dua proyek ketenagalistrikan Adaro Power berjalan sesuai rencana. Untuk proyek PLTU PT Tanjung Power Indonesia (TPI), ditargetkan dapat mencapai commercial operation date (COD) pada 2019.

“Aktivitas engineering, procurement and construction [EPC] di TPI [akhir 2018] telah mencapai 99%. Rencana COD semester I/2019,” ujarnya kepada Bisnis.com baru-baru ini.

Dia mengungkapkan perseroan juga tengah menggarap proyek PLTU di PT Bhimasena Power Indonesia (BPI). Progres EPC akhir tahun lalu telah mencapai 60% dan ditargetkan COD pada 2020.

Febriati mengatakan Adaro Power fokus mengembangkan bisnis ketenagalistrikan. Menurutnya, perseroan terus aktif mencari proyek pembangkit baik di dalam maupun di luar negeri.

“Ke depan, kontribusi dari pilar bisnis listrik dan pilar bisnis utama lainnya diharapkan seimbang,” jelasnya.

ADARO WATER

Secara terpisah, Presiden Direktur PT Adaro Tirta Mandiri (ATM) Wito Krisnahadi mengatakan saat ini kapasitas infrastruktur air perseroan sebanyak 1.220 liter per detik (lpd). Jumlah itu tersebar di Gresik, Jawa Timur, sebanyak 400 lpd, Banjar Baru, Kalimantan Selatan, sebanyak 500 lpd, dan Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sebanyak 320 lpd.

“Tahun ini minimal target 2.000 lpd. Ada beberapa proyek yang masih kami incar," ujarnya di Jakarta, Senin (15/4).

Dalam pengembangan bisnis air bersih, sambungnya, perseroan memiliki beberapa strategi yakni akuisisi, pemrakarsa, atau mengikuti tender Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). 

Awal tahun ini, ATM bersama dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. juga telah memenangkan tender proyek investasi sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kota Dumai, Riau, dengan kapasitas 450 lpd.

Wito mengatakan induk usaha, Adaro Energy, telah menyisihkan dana untuk pengembangan lini Adaro Water. Dalam 4 tahun ke depan, total kucuran dana yang disiapkan mencapai Rp3 triliun. Dia menjelaskan bahwa kontribusi bisnis air bersih memang masih terbilang kecil bagi Adaro Energy. Apalagi, bisnis tersebut baru dimulai pada 2017.

Kendati demikian, dengan target kapasitas 4.000 lpd, pihaknya menyebut lini bisnis itu dapat menjadi bagian diversifikasi dari Adaro Energy. “Yang dipenting kan bukan hanya penyumbang revenue tetapi diversifikasi usaha dari Adaro Energy dan juga untuk membantu akses air minum masyarakat,” jelasnya.

Sebagai catatan, pada 2017, ATM dan anak usaha PT Drupadi Tirta Gresik dan PT Drupadi Tirta Intan membentuk pilar Adaro Water. Lini tersebut melakukan diversifikasi ke bidang pengolahan air bersih, pengolahan air limbah, pengelolaan jaringan distribusi, dan jasa solusi air. 

Seperti diketahui, Adaro Energy mengantongi pendapatan US$3,62 miliar pada 2018. Realisasi tersebut tumbuh 11% dari US$3,25 miliar pada 2017.

Akan tetapi, beban pokok pendapatan perseroan tercatat naik lebih tinggi secara tahunan pada 2018. Beban pokok pendapatan naik 14% dari US$2,11 miliar pada 2017 menjadi US$2,41 miliar pada 2018. Dari situ, ADRO membukukan pertumbuhan laba kotor US$1,21 miliar pada 2018. Pencapaian itu naik 14% dibandingkan dengan US$1,14 miliar pada 2017.

Dengan demikian, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk ADRO senilai US$417,72 juta pada 2018. Jumlah itu turun 13,56% dari US$483,29 juta pada 2017.

Pada 2019, ADRO menargetkan produksi batu bara di kisaran 54 metrik ton (mt) hingga 56 mt. Dari situ,  earnings before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) operasional diproyeksikan sekitar US$1 miliar hingga US$1,2 miliar. Adapun, perseroan menganggarkan belanja modal US$450 juta hingga US$600 juta pada 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, adaro

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top