Bukit Uluwatu Villa (BUVA) Cari Pinjaman Bank US$140 Juta untuk Ekspansi  

PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. memilih mengajukan pinjaman perbankan ketimbang obligasi untuk menyeleasikan dua proyek eksisting dan ekspansi unit bisnis baru tahun ini.
Anitana Widya Puspa | 08 April 2019 16:23 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. memilih mengajukan pinjaman perbankan ketimbang menerbitkan obligasi untuk menyeleasikan dua proyek exsisting dan ekspansi unit bisnis baru tahun ini.

Direktur BUVA Hendry Utomo mengatakan perseroan telah memperoleh restu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RPUSLB) untuk menjaminkan lebih dari 50% kekayaan perseroan sebagai jaminan utang atas nama perseroan dan entitas anak.

Dia melanjutkan, nilai pinjaman memang belum difinalisasi, akan tetapi diperkirakan sebesar US$130 juta—US$140 juta atau sekitar Rp1,8 triliun bila menggunakan asumsi kurs rupiah senilai Rp14.200. Nilai pinjaman itu juga sudah termasuk pinjaman eksisting.

“Nilai itu termasuk pinjaman yang ada sekarang jadi bukan tambahannya. Nilai pinjaman eksisting sendiri sekitar Rp1,2 triliun untuk grup secara konsolidasi. Kajian pinjaman bank luar atau valas kami membuka semua jenis pembiayaan,”katanya usai RUPSLB Senin (8/4/2019).

Selain itu, dia memperkirakan keperluan belanja modal tahun ini mencapai Rp450 miliar untuk mengoperasionalkan secara penuh Alila Villas di Bintan dan Hotel Alilla di SCBD. Sementara itu, ekspansi unit bisnis baru melakukan akuisisi perusahaan di bidang lifestyle dan  entertainment yang masih sejalan dengan bisnis inti. Terkait rencana ekspansi unit bisnis baru itu, emiten berkode saham BUVA masih dalam tahap negosiasi dan realisasinya kemungkinan pada semester I/2019.

Perseroan juga tengah menyelesaikan konstruksi Alila Villas Bintan yang menawarkan kurang lebih 64 unit, termasuk 24 unit villa dua dan tiga kamar. Saat ini tingkat kemajuan konstruksinya telah mencapai 60% dan diharapkan rampung pada tahun depan. Di sisi lain rencana pengembangan royek lainnya di Magelang dan Manado belum bisa dimulai.

BUVA tercatat memiliki tiga proyek hotel berjalan, salah satunya ada Alila Ubud sudah mengoperasikan sembialn unit villa dengan jenis 1 bed room (BR) dan 1 unit villa dengan jenis 2 bed room (BR). Artinya jika ekspansi ini rampung, BUVA memiliki 39 unit villa dengan type 1 BR dan 3 villa dengan type 2 BR.

Corporate Secretary PT Bukit Uluwatu Villa Tbk Benita Sofia mengatakan bahwa pada 2019, BUVA memasang target pendapatan dan laba bersih naik pesat, masing-masing naik sebesar 125% dan 100% dengan rampungnya proyek yang telah direncanakan.

Tahun lalu, untuk memperbaiki kinerja, BUVA juga memfokuskan diri pada penyelesaian seluruh proyek berjalan.

Berdasarkan laporan keuangan yang diaudit per akhir Desember, BUVA mencatatkan pertumbuhan penjualan senilai Rp236 miliar atau naik 93% menjadi Rp488 miliar secara year on year. Perinciannya, kontribusi terbesar dari segmen gaya hidup, rekreasi, dan hiburan senilai Rp200 miliar dan pendapatan kamar hotel senilai Rp183 miliar.

BUVA juga berhasil membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk senilai Rp13,8 miliar dan membalikkan kerugian yang dialami pada 2017 sebesar Rp39 miliar.

Jumlah aset dalam pembangunan pada 2018 meningkat menjadi Rp334 miliar sebagian besar berasal dari entitas anak serta peningkatan aset tetap menjadi Rp447 miliar karena revaluasi aset tetap berupa tanah snilai Rp234 miliar berasal dari entitas anak, yakni PT Kharisma Jawara Abadi.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bukit uluwatu, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup