Harga Minyak Turun, Terbebani Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi

Harga minyak mentah lanjut turun pada awal perdagangan pekan ini, Senin (25/3/2019), akibat terbebani kekhawatiran perlambatan ekonomi yang melebihi dampak gangguan pasokan dari upaya pengurangan produksi OPEC serta sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dan Venezuela.
Renat Sofie Andriani | 25 Maret 2019 08:53 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah lanjut turun pada awal perdagangan pekan ini, Senin (25/3/2019), akibat terbebani kekhawatiran perlambatan ekonomi yang melebihi dampak gangguan pasokan dari upaya pengurangan produksi OPEC serta sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dan Venezuela.

Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent menyentuh level US$66,79 per barel pada pukul 7.22 pagi WIB, turun 29 sen atau 0,4% dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Adapun harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) turun 37 sen atau 0,6% ke level US$58,68 per barel dari level penutupan sebelumnya.

"Ekspektasi inflasi telah meningkat. Perkiraan untuk pertumbuhan dan laporan keuangan telah direvisi turun secara material di semua wilayah utama,” menurut Morgan Stanley.

Sementara itu, ANZ bank mengatakan prospek ekonomi yang semakin gelap membayangi masalah sisi pasokan yang dihadapi pasar minyak, di tengah pengurangan pasokan yang didorong oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran.

OPEC dan aliansinya seperti Rusia, berjanji untuk mengurangi sekitar 1,2 juta barel per hari (bph) pasokan minyak tahun ini guna menopang pasar.

Minyak mentah pun telah menguat lebih dari 30% sepanjang tahun ini ketika upaya pengurangan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya, serta gangguan pasokan di Venezuela dan Iran, mampu mengimbangi kenaikan produksi minyak shale AS.

Namun, penguatannya telah dibatasi oleh kekhawatiran bahwa ekonomi global yang melambat dan sengketa perdagangan yang berlarut-larut antara AS dan China akan menghambat konsumsi bahan bakar.

Rilis data manufaktur yang lebih lemah daripada ekspektasi di Jerman dan Prancis pekan lalu menimbulkan keraguan baru pada prospek ekonomi Eropa.

Di sisi lain, kurva imbal hasil treasury AS terlihat terbalik pada Jumat (22/3/2019) pagi waktu setempat, untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan tahun 2007. Pergerakan ini dipandang sebagai pertanda resesi di AS.

“PMI Prancis dan Jerman sama-sama buruk. Minyak mentah [AS] diperdagangkan di level US$60 sampai data Zona Euro mulai keluar, sehingga pasti ini tentang persepsi permintaan dan tidak ada hubungannya dengan sisi penawaran,” terang Bob Yawger, direktur divisi berjangka di Mizuho Securities, dikutip Bloomberg.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup