Berikut Faktor-faktor Penyebab Harga Sawit kian Tersungkur

Sudah 7 hari, harga minyak kelapa sawit bertahan di zona merah lantaran dirundung oleh sejumlah sentimen negatif.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 14 Maret 2019  |  19:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Sudah 7 hari, harga minyak kelapa sawit bertahan di zona merah lantaran dirundung oleh sejumlah sentimen negatif.

Bahkan, harga CPO pun belum bisa mencicipi level kejayannya yang ditorehkan pada 2017.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (14/3), harga CPO ditutup amblas 1,34% atau 28,00 poin di level 2.063 ringgit per ton.

Hal itu melanjutkan tren pelemahan harga komoditas andalan Indonesia itu selama 7 hari berturut-turut. Tercatat, sejak berada di level lemah 2.157 ringgit per ton, pada perdagangan Rabu (6/3), harga CPO sudah melemah 4,36% hingga perdagangan siang tadi.

Sementara, dari harga tertingginya pada 2017 di level 2.785 ringgit per ton, harga bahan baku sabun mandi itu telah raib 25,29%.

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, harga sawit kini sedang dirundung sejumlah sentimen negatif. Antara lain, permintaan melemah yang tercermin dari menurunnya impor sawit dari pembeli terbesar, India. Kemudian, naiknya produksi sawit di negara produsen utama, yaitu Malaysia dan Indonesia.

 “Hal itu sudah jadi sentimen negatif,” katanya kepada Bisnis, Kamis (14/3/2019).

Selanjutnya, kabar terbaru Komisi Eropa memutuskan, budidaya sawit penyebab deforestasi, sehingga penggunannya sebagai bahan bakar harus dihapuskan. Menurut Deddy, hal tersebut berpotensi akan membatasi impor CPO di kawasan Uni Eropa.

Selain itu, sambungnya, produksi rapeseed domestik di India akan meningkat pada tahun ini. Deddy mengatakan, hal tersebut akan meningkatkan ketersediaan minyak rapeseed lebih dari 1,5 juta ton, sehingga menyerap permintaan dari dalam negeri.

“Kalau kita lihat lagi, kalau sampai kesepakatan dagang Amerika Serikat dan China berjalan lancar,  bukan tak mungkin Negeri Tirai Bambu itu bakal lebih banyak membeli kedelai dari AS. Artinya pasokan CPO akan tergantikan oleh kedelai,” katanya.

Oleh sebab itu, dia menilai harga CPO pada tahun ini berada dalam tren bearish karena sentimen-sentimen negatif tersebut.

Dia menambahkan, salah satu katalis positif yang bisa mendongrak harga sawit dalam waktu dekat adalah permintaan pada Ramadan mendatang. Pada momen itu, biasanya permintaan akan meningkat terutama di negara-negara timur tengah.

“Biasanya masuk kuartal II adanya permintaan dari timur tengah bisa menjadi sentimen positif. Meski terbatas,” katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga cpo

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top