Perbaikan Kinerja Dorong Saham LPCK

Sepanjang hari ini, harga saham emiten berkode LPCK itu cenderung bergerak di zona hijau dengan harga tertinggi pada level Rp2.020. Saham LPCK ditutup menguat 75 poin atau 3,91% ke level Rp1.995 dari hari sebelumnya sebesar Rp1.920.
Dyah Ayu Kartika
Dyah Ayu Kartika - Bisnis.com 14 Maret 2019  |  19:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Sepanjang hari ini, harga saham emiten berkode LPCK itu cenderung bergerak di zona hijau dengan harga tertinggi pada level Rp2.020. Saham PT Lippo Cikarang Tbk. ditutup menguat 75 poin atau 3,91% ke level Rp1.995 dari hari sebelumnya sebesar Rp1.920.

Secara year-to-date pergerakan harga saham LPCK menunjukkan tren positif atau menghijau 35,25% ytd.

Di sisi lain, indeks konstruksi, properti dan realestat juga ditutup menguat tipis 0,19% ke level Rp453,97 dibandingkan penutupan bursa hari kemarin (13/3) dan sepanjang 2019 indeks sektor ini tumbuh 1,39% ytd.

Kinerja keuangan LPCK pada akhir 2018 menunjukkan sisi pendapatan naik 47,19% (yoy) menjadi Rp2,21 triliun dari tahun 2017 sebesar Rp1,5 triliun. Sejalan dengan kenaikan pendapatan, beban usaha perusahaan juga mengalami kenaikan 9,63% (yoy) menjadi Rp305,02 miliar.

Namun, laba bersih LPCK meroket tajam akibat keuntungan pencatatan investasi pada entitas asosiasi dengan nilai wajar hingga Rp2,36 triliun. Tercatat laba bersih perusahaan naik 502,74% (yoy) menjadi Rp2,22 triliun dari periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp368,44 miliar.

Saat ini perusahaan membutuhkan dana sebesar US$200 juta atau sekitar Rp2,9 triliun guna meningkatkan modal. Emiten dengan kode saham LPCK ini akan melakukan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dengan nilai nominal Rp500 per saham.

Selain untuk penambahan modal, hasil rights issue ini akan digunakan untuk ekspansi usaha dan pemberian pinjaman atau penyertaan modal pada anak usaha. Right Issue ini direncanakan akan dilaksanakan pada kuartal II/2019 dan selambat-lambatnya kuartal III/2019.

Sisi teknikal menunjukkan harga saham LPCK menguat sepanjang 2019 meskipun pergerakannya masih berada di momentum negatif dan pasar masih menunjukkan tren bearish yang tercermin dari indikator MACD. Hal ini juga nampak pada Indikator Relative Strength Index (RSI) yang cenderung berada di area oversold.

 

Sumber: Bloomberg

*) Dyah Ayu Kartika, analis Bisnis Indonesia Resources Center

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, lippo cikarang

Editor : Aprillian Hermawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top